Monday, 04 May 2026
Fakta Kesehatan

Virus Penyebab Cacar Air "Tidur" dalam Tubuh, Dapat Bangkit Menjadi Cacar Api

Virus Varicella zoster yang menyebabkan cacar air dapat "bangun" kembali menjadi cacar api ketika sistem imun tubuh melemah.

P
Padma Dewi
02 May 2026 13 pembaca
Virus Penyebab Cacar Air "Tidur" dalam Tubuh, Dapat Bangkit Menjadi Cacar Api

Seseorang yang pernah mengalami cacar air di masa kecil berisiko mengalami cacar api di kemudian hari. Virus Varicella zoster (VZV) yang menyebabkan cacar air tidak hilang setelah sembuh, melainkan tetap "tidur" di dalam tubuh dan dapat aktif kembali saat imunitas tubuh menurun.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan, Vito A. Damay, menjelaskan bahwa virus ini berada di ujung saraf dekat tulang belakang. "Saat imunitas tubuh turun, baru keluar menjadi cacar api," ujarnya dalam konferensi pers yang diadakan pada Selasa, 28 April 2026, dalam rangka peringatan Pekan Imunisasi Sedunia dengan tema “Cegah Cacar Api Tanpa Tapi” bersama GSK.

Vito juga menjelaskan perbedaan gejala antara cacar air dan cacar api. Cacar air biasanya dimulai dengan demam tinggi, seringkali lebih dari 38 derajat Celsius, diikuti dengan munculnya bintik merah yang cepat berubah menjadi lenting berisi cairan. Sementara itu, cacar api sering kali muncul dengan nyeri hebat di satu sisi tubuh tanpa gejala awal yang jelas. Nyeri ini bisa disalahartikan sebagai serangan jantung jika terjadi di area dada, atau gangguan pencernaan jika terasa di perut.

“Pasien sering merasa tubuhnya baik-baik saja, tapi tiba-tiba muncul nyeri hebat. Ini yang membuat banyak orang tidak sadar bahwa itu sebenarnya cacar api,” jelasnya. Setelah beberapa hari, lepuhan berisi cairan akan muncul di area yang terasa nyeri, dan keluhan ini bisa semakin mengganggu aktivitas sehari-hari karena rasa sakit yang intens.

Cacar api juga dikenal dengan berbagai sebutan di masyarakat, seperti herpes zoster, cacar ular, atau dompo. Meskipun namanya berbeda, semua istilah ini merujuk pada kondisi yang sama, yaitu reaktivasi virus Varicella zoster yang "tidur" dalam tubuh.

Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PP PERKI), dokter Ade Meidian Ambari, Sp.JP, FIHA, mengingatkan bahwa sistem imunitas tubuh tidak selalu stabil dan dapat dipengaruhi oleh gaya hidup sehari-hari. “Perlu diingat, sistem imun itu sangat bergantung pada lifestyle. Kadang bisa bagus, kadang juga menurun,” ungkapnya.

Untuk menjaga daya tahan tubuh, ada beberapa langkah yang dapat diambil, di antaranya adalah rutin berolahraga, mengelola stres, memperhatikan pola makan, tidur yang cukup, dan melakukan vaksinasi. Olahraga seperti resistance training dan latihan aerobik dianjurkan untuk meningkatkan sistem imun, idealnya dilakukan minimal 150 menit per minggu dengan intensitas sedang.

Selain itu, mengelola stres juga penting untuk menjaga imunitas. Menjaga pola makan yang seimbang dengan memperbanyak konsumsi ikan, sayur, dan buah, serta cukup tidur sekitar 6–8 jam per malam, juga berkontribusi pada kesehatan tubuh. Vaksinasi dapat membantu tubuh membentuk kekebalan terhadap berbagai penyakit yang disebabkan oleh bakteri atau virus.

// Artikel Terkait