Wabah pes yang dikenal sebagai Black Death yang terjadi antara tahun 1347 hingga 1353 bukanlah akhir dari penyakit tersebut di Eropa. Sebaliknya, penyakit ini muncul kembali dalam beberapa gelombang selama berabad-abad. Penelitian yang menganalisis 26 genom bakteri dari 11 lokasi arkeologi telah membantu para ilmuwan mencocokkan DNA kuno dengan catatan sejarah mengenai wabah.
Penelitian ini menunjukkan bahwa perang dan perpindahan manusia berkontribusi dalam penyebaran pes. Meskipun penyakit ini masih ada di beberapa daerah, pengobatan dengan antibiotik dapat dilakukan jika ditangani secara dini. Black Death pada periode 1347–1353 menyebabkan kematian jutaan orang di Eropa, namun setelah gelombang awal tersebut, wabah pes tidak sepenuhnya berakhir. Bukti DNA yang diambil dari kerangka manusia menunjukkan bahwa penyakit ini terus muncul di berbagai wilayah selama berabad-abad.
Gelombang Wabah yang Berulang
Temuan dari studi ini dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS). Penelitian ini menegaskan bahwa Black Death hanyalah satu dari sekian banyak gelombang wabah yang terjadi. DNA yang diambil dari tulang manusia telah membantu menyusun ulang jejak wabah, menunjukkan bahwa pes muncul kembali dari lebih dari satu sumber. Perang dan migrasi manusia membuka jalur-jalur baru bagi penyebaran penyakit ini.
Setelah tahun 1353, wabah pes berulang kali muncul di berbagai kota dan wilayah. Namun, studi ini tidak menyatakan bahwa wabah yang sama terus menyebar tanpa henti selama 400 tahun. Sebaliknya, penemuan ini menunjukkan bahwa gelombang pes muncul kembali dari waktu ke waktu. Tim peneliti berhasil merekonstruksi 26 genom Yersinia pestis, bakteri penyebab pes, dari lokasi-lokasi arkeologi di Estonia, Rusia, Inggris, Belanda, dan Swiss, dengan sampel yang berasal dari tahun 1349 hingga 1710.
Faktor Penyebaran dan Penularan
Genom merupakan kumpulan informasi genetik yang memungkinkan ilmuwan untuk membandingkan satu sampel bakteri dengan yang lainnya. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah penanggalan radiokarbon pada sisa-sisa manusia kuno yang kadang memberikan rentang waktu yang sangat luas, bahkan lebih dari satu abad. Para peneliti mengembangkan metode yang menggabungkan rentang waktu radiokarbon dengan posisi genom dalam pohon evolusi bakteri, sehingga dapat mempersempit perkiraan waktu dan membandingkannya dengan catatan wabah yang ada.
Secara tentatif, tim peneliti mengaitkan 75 genom dengan wabah yang tercatat dalam dokumen sejarah. Temuan ini menunjukkan bahwa pes muncul berulang kali di berbagai bagian Eropa, bukan hanya berasal dari satu sumber geografis setelah Black Death. Sekitar tahun 1450 hingga 1500, garis keturunan bakteri berkembang menjadi tiga kelompok utama, dan sebagian cabang diduga membentuk reservoir baru pada populasi hewan pengerat liar.
Perubahan iklim, termasuk kekeringan besar yang dikenal sebagai Great Renaissance Drought, juga dianggap sebagai faktor yang mungkin berperan dalam penyebaran penyakit ini, meskipun hal ini masih bersifat dugaan. Studi ini juga menemukan hubungan antara genom dengan wabah yang terjadi selama Perang Tiga Puluh Tahun dan Perang Utara Besar, di mana pergerakan tentara, pengungsi, dan pedagang melintasi berbagai wilayah berpotensi menjadi jalur penyebaran penyakit.
Salah satu contoh yang diungkapkan adalah dari pengepungan Tallinn pada tahun 1710, di mana temuan arkeologi dan catatan sejarah menunjukkan bahwa korban pes terdiri dari warga sipil serta tentara Swedia dan Rusia. Kecocokan genom membantu memperjelas hubungan antara lokasi dan periode wabah, meskipun tidak selalu dapat memastikan rute persis yang dilalui oleh bakteri.
Studi ini menelusuri sejarah bakteri Yersinia pestis. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), bakteri ini masih ditemukan pada mamalia kecil dan kutunya di sejumlah wilayah. Dari tahun 2019 hingga 2025, sebagian besar kasus manusia yang dilaporkan kepada WHO berasal dari Republik Demokratik Kongo dan Madagaskar. Penularan umumnya terjadi melalui gigitan kutu yang terinfeksi, sementara pes paru juga dapat menular melalui partikel pernapasan. Antibiotik terbukti efektif, terutama jika diagnosis dan pengobatan dilakukan secara dini.