Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Dradjad Hari Wibowo, mengimbau kepada para investor ritel untuk melakukan perhitungan valuasi saham sebelum mengambil langkah investasi. Ia menekankan pentingnya untuk tidak hanya mengikuti tren pasar, tetapi juga melakukan analisis terhadap rasio valuasi dan kinerja keuangan perusahaan.
Pentingnya Memeriksa Rasio Valuasi
Dradjad menjelaskan bahwa investor dapat menilai apakah harga saham wajar dengan mempertimbangkan rasio price to book value (PBV), price to earnings ratio (PER), serta kinerja emiten berdasarkan laporan keuangan yang ada. "Jadi saya hanya sampaikan pesan, lihat saja PBV-nya, lihat PER-nya, lihat kinerjanya, kemudian lihat laporan per bulan Agustus, karena laporan kuartal ketiga kan belum keluar ya, laporan bulan Agustus, mungkin September sudah ada, lihat cek sendiri, jadi hitung sendiri karena ini uang teman-teman sendiri," ujarnya dalam sebuah diskusi.
Data dan Perhitungan Mandiri
Menurut Dradjad, penting bagi investor untuk mengandalkan data dan analisis mereka sendiri dalam membuat keputusan investasi. Ia menegaskan bahwa tidak etis bagi pejabat negara untuk merekomendasikan saham tertentu kepada masyarakat. "Tentu sebagai pejabat negara saya nggak etis kalau menyebutkan saham A, saham B yang harus dibeli," tambahnya.
Ia juga menyoroti beberapa saham yang memiliki valuasi rendah meskipun menunjukkan perbaikan dalam kinerja keuangan. Dradjad memberikan contoh emiten yang mengalami peningkatan laba dan pendapatan, tetapi memiliki PBV di bawah satu. "Masuk akal tidak ketika emiten itu menunjukkan peningkatan laba, menunjukkan peningkatan penerimaan, itu PBV-nya di bawah 1. Jelas nggak masuk akal kan?" jelasnya.
Dradjad menekankan bahwa investor perlu memperhatikan kinerja keuangan perusahaan dan melakukan penilaian valuasi dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing emiten, bukan hanya bergantung pada satu rasio. Ia mencatat bahwa rasio PER di pasar modal Indonesia berada sekitar sembilan kali, sementara di Singapura mencapai sekitar 18 kali, menunjukkan potensi kenaikan harga saham di Indonesia.
"Yang diperlukan adalah confidence," ungkapnya. Belakangan ini, Dradjad juga berinteraksi dengan sejumlah investor ritel untuk memberikan data dan mendorong mereka agar menilai kondisi pasar secara rasional. Ia menekankan pentingnya edukasi berbasis data agar investor tidak mudah terpengaruh oleh sentimen negatif.
Dradjad mengingatkan masyarakat untuk tidak langsung mempercayai prediksi ekstrem mengenai pelemahan rupiah tanpa memeriksa dasar analisisnya. Ia berharap pernyataan mengenai kondisi ekonomi disampaikan secara objektif, tidak berlebihan dalam menggambarkan risiko maupun mengabaikan tantangan yang ada. Dradjad berharap agar investor dapat membuat keputusan berdasarkan perhitungan yang matang sehingga kepercayaan terhadap pasar modal tetap terjaga.