Cadangan zat besi dalam tubuh anak bisa berkurang sebelum kadar hemoglobin mengalami penurunan. Pada tahap ini, anak masih dapat beraktivitas seperti biasa dan tidak menunjukkan tanda pucat. Pucat sering kali menyertai anemia defisiensi besi, terutama saat kondisi anemia sudah lebih parah, tetapi gejala ini sulit dikenali dan bukan merupakan indikator pasti dari penyebabnya.
Anak yang tampak pucat atau menunjukkan gejala seperti kelelahan berlebihan dan kesulitan berkonsentrasi perlu dievaluasi oleh tenaga kesehatan. Hanya mengandalkan warna kulit tidak cukup untuk menentukan adanya kekurangan zat besi. Perubahan warna kulit pada anak bisa terjadi secara bertahap, dan karena orang tua melihat anak setiap hari, perubahan tersebut kadang-kadang tidak langsung terlihat. Sementara itu, kekurangan zat besi bisa mulai terjadi jauh sebelum anak menunjukkan tanda pucat.
Pentingnya Memahami Proses Kekurangan Zat Besi
“Anemia defisiensi besi tidak terjadi secara tiba-tiba. Kondisi ini mengalami proses yang lama, dari mulai kekurangan besi sampai nanti terjadi penurunan Hb,” ungkap Prof. Dr. dr. Murti Andriastuti, Sp.A(K), Subsp.H.Onk.(K), dari Unit Kerja Koordinasi Hematologi Onkologi IDAI, dalam seminar media pada 6 Oktober 2026. Pernyataan ini menjelaskan perbedaan antara defisiensi besi dan anemia defisiensi besi. Defisiensi besi berarti persediaan zat besi dalam tubuh sudah berkurang, dan kondisi ini bisa terjadi meskipun kadar hemoglobin (Hb) masih dalam batas normal. Jika kekurangan zat besi berlanjut hingga kadar Hb menurun, barulah kondisi tersebut dikategorikan sebagai anemia defisiensi besi.
Cadangan zat besi dalam tubuh digunakan terlebih dahulu, dan salah satu indikator cadangan tersebut adalah ferritin. Jika cadangan besi terus menurun, maka kadar besi yang tersedia untuk pembentukan sel darah merah juga akan terpengaruh, yang pada akhirnya dapat menyebabkan penurunan kadar Hb. “Pada tahap awal itu hanya ferritin yang turun. Nah, pada saat ini anak yang mengalami defisiensi besi itu masih aktif, tidak terlihat sakit,” jelas Prof. Murti. Ini menunjukkan bahwa anak yang tampak sehat dan tidak pucat belum tentu memiliki cadangan zat besi yang memadai.
Tanda-Tanda Lain yang Perlu Diperhatikan
Panduan klinis dari American Academy of Pediatrics (AAP) 2026 juga menekankan pentingnya membedakan antara defisiensi besi dan anemia defisiensi besi. Pemeriksaan darah lengkap dan ferritin dapat membantu dokter dalam menilai kedua kondisi tersebut. Kadar ferritin harus ditafsirkan dengan mempertimbangkan kondisi anak, karena peradangan atau infeksi dapat menyebabkan peningkatan nilai ferritin.
Ketika anemia sudah terjadi, pucat bisa terlihat pada kulit, bagian dalam kelopak mata, atau dasar kuku, tetapi tanda ini tidak selalu mudah dikenali. AAP menyatakan bahwa pucat lebih sering ditemukan pada anemia yang sedang hingga berat; beberapa anak dengan anemia kronis yang terkompensasi mungkin tidak menunjukkan banyak tanda fisik, bahkan pemeriksaan fisik mereka bisa tampak normal. Pada anak dengan kulit yang lebih gelap, perubahan mungkin terlihat sebagai kulit yang lebih pucat, kusam, atau kekuningan. “Keluhan pucat itu sulit ya, bukan hanya orang tua, tapi kadang dokter juga bisa terlewat nih,” tambah Prof. Murti.
Pucat bukanlah tanda khusus untuk kekurangan zat besi. Anemia dapat disebabkan oleh berbagai faktor, sehingga hanya mengandalkan warna kulit tidak cukup untuk memastikan penyebabnya. Sebuah metaanalisis terhadap 11 studi pada anak menunjukkan bahwa pemeriksaan pucat pada telapak tangan, konjungtiva, atau kuku bukanlah indikator klinis yang sangat akurat untuk mendiagnosis anemia. Selain pucat, anak yang mengalami kekurangan zat besi juga dapat menunjukkan gejala seperti kelelahan, peningkatan kecenderungan rewel, atau kesulitan berkonsentrasi. Beberapa anak mungkin juga mengalami keinginan untuk mengunyah benda-benda non-makanan, seperti es, tanah, atau kertas, yang dikenal sebagai pika.
Gejala yang dialami anak tidak selalu sama, dan tanda-tanda tersebut tidak dapat digunakan secara terpisah untuk menentukan diagnosis. Dalam sesi media tersebut, Prof. Murti menjelaskan bahwa dokter dapat menggali riwayat makan, kemungkinan adanya perdarahan, serta keluhan seperti lemas, mudah marah, atau gangguan konsentrasi. Pemeriksaan fisik dan tes darah kemudian akan membantu menentukan apakah anak mengalami defisiensi besi, anemia defisiensi besi, atau kondisi lainnya.
Apabila anak terlihat semakin pucat, mudah lelah, lebih sering mengantuk, atau mengalami keluhan yang mengganggu aktivitasnya, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter. Dokter akan mempertimbangkan usia, pola makan, riwayat kesehatan, dan kemungkinan kehilangan darah sebelum menentukan pemeriksaan yang diperlukan. Pemeriksaan darah lebih dapat diandalkan daripada hanya menilai warna kulit. Mengingat bahwa defisiensi besi bisa terjadi sebelum kadar Hb menurun dan sebelum anak tampak pucat, perubahan yang terlihat bukanlah satu-satunya alasan untuk mencari penilaian medis, terutama jika anak memiliki faktor risiko untuk kekurangan zat besi.