Jakarta - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) baru-baru ini memaparkan informasi mengenai sebaran akreditasi perguruan tinggi di Indonesia. Direktur Kelembagaan Kemdiktisaintek, Mukhamad Najib, menjelaskan bahwa hingga akhir 2025, hanya sekitar enam persen perguruan tinggi yang mendapatkan akreditasi "Unggul".
Data tersebut disampaikan dalam Forum Diskusi Denpasar 12 yang berlangsung secara daring dari Jakarta pada Rabu. Najib merinci bahwa dari total 4.416 perguruan tinggi yang terdaftar, hanya enam persen yang memperoleh akreditasi "A". Sementara itu, sebanyak 67 persen perguruan tinggi masih terjebak pada akreditasi "C" atau "Baik".
Pentingnya Akreditasi dalam Pendidikan
Akreditasi merupakan suatu proses penilaian untuk menentukan kelayakan program studi dan perguruan tinggi. Proses ini mengikuti Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 5 Tahun 2020, yang mengatur tentang akreditasi program studi dan perguruan tinggi. Dalam aturan tersebut, peringkat akreditasi terdiri dari tiga kategori, yaitu: a. Baik (C), b. Baik Sekali (B), dan c. Unggul (A).
Selain membahas akreditasi perguruan tinggi, Najib juga mengungkapkan data mengenai akreditasi program studi. Ia mencatat bahwa hanya sekitar 22 persen dari 33.741 program studi yang terakreditasi "Unggul". "Bahkan ada program studi yang tidak terakreditasi, yang menurut undang-undang tentu program studi yang tidak terakreditasi itu tidak memiliki hak untuk mengeluarkan ijazah," tambahnya.
Tantangan Lulusan STEM di Indonesia
Fenomena akreditasi ini semakin diperparah dengan fakta bahwa lulusan di bidang Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM) di Indonesia hanya mencapai 18,47 persen. Di negara-negara maju, angka lulusan STEM sudah melebihi 30 persen. Hal ini berdampak pada jumlah angkatan kerja di Indonesia yang tergolong sebagai pekerja berkeahlian tinggi masih tergolong sedikit.
"Kita sering mendengar ya, ketika ada investasi masuk kemudian industri baru terbuka, kemudian masyarakat kita hanya menjadi penonton, karena industri baru itu mendatangkan tenaga kerja dari luar negeri," ungkap Najib, yang sebelumnya menjabat sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan Australia.
Menurut data yang dirilis oleh World Bank hingga tahun 2020, jumlah mahasiswa lulusan dari program studi STEM di Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan negara-negara seperti Vietnam (23,38%), Thailand (27,31%), Malaysia (37,19%), dan Singapura (34,3%).
Najib menekankan pentingnya meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia agar dapat memenuhi kebutuhan sektor industri. "Nah ini harus kita jawab bahwa industrialisasi kita itu bisa diisi oleh anak negeri kita, oleh anak bangsa kita dengan kita juga membekali mereka, memperkuat mereka dengan keahlian yang dibutuhkan untuk memperkuat industrialisasi kita," pungkasnya.