Beirut - Naim Qassem, pemimpin Hizbullah, menegaskan bahwa kelompok yang berbasis di Lebanon dan didukung oleh Iran itu tidak menghiraukan hasil pemilu di Israel. Ia menambahkan bahwa perlawanan terhadap Israel akan terus berlanjut, tanpa mempedulikan siapa yang terpilih sebagai pemenang.
Menurut laporan AFP pada Kamis (29/10/2026), dengan 85 persen suara yang telah dihitung, blok sayap kanan yang dipimpin oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sementara ini unggul tipis atas blok oposisi utama, meskipun belum mencapai mayoritas dalam pemilu tersebut. Qassem menyatakan, "Kami tidak memedulikan siapa yang memerintah Israel, tetapi harus ditegaskan bahwa mereka tidak bisa terus melakukan pendudukan dan harus segera meninggalkan tanah kami."
Perlawanan yang Tak Terhentikan
Qassem juga menegaskan bahwa perlawanan Hizbullah akan terus berlanjut dan siap menghadapi segala bentuk agresi yang ditujukan kepada mereka maupun Lebanon. Ia menambahkan, "Tidak ada ruang untuk membahas pelucutan senjata Hizbullah. Selama pendudukan masih berlangsung dan agresi terus berlanjut."
Dampak Perang Terhadap Hizbullah
Hizbullah, yang sebelumnya pernah mendominasi politik Lebanon, kini mengalami penurunan kekuatan akibat dua perang yang mereka lakukan melawan Israel sejak tahun 2023. Pada bulan Juni lalu, pemerintah Lebanon dan Israel telah menandatangani kerangka kesepakatan yang mencakup pelucutan senjata Hizbullah, penarikan bertahap pasukan Israel dari wilayah yang diduduki, serta pengiriman tentara Lebanon ke area tersebut.
Namun, Israel tetap melanjutkan serangan sporadis dan penghancuran bangunan di dalam dan sekitar wilayah yang diduduki, sementara Hizbullah menolak untuk mematuhi rencana pemerintah yang mengharuskan mereka melucuti senjata.