PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat adanya penurunan dalam aktivitas perdagangan saham selama sepekan terakhir, tepatnya dari tanggal 26 hingga 30 Oktober 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai kapitalisasi pasar mengalami penurunan masing-masing sekitar 7 persen.
“Aktivitas perdagangan saham di BEI selama periode 26–30 Oktober 2026 menunjukkan koreksi pada sejumlah indikator dibandingkan pekan sebelumnya,” jelas BEI dalam keterangan resmi yang diterima pada Ahad (1/11/2026).
Penurunan Nilai Transaksi dan Frekuensi Perdagangan
Rata-rata nilai transaksi harian mengalami penurunan sebesar 29,49 persen, menjadi Rp 14,339 triliun, dibandingkan dengan Rp 20,34 triliun pada pekan sebelumnya. Selain itu, rata-rata frekuensi transaksi harian juga mengalami penurunan sebesar 20,99 persen menjadi 1,54 juta kali transaksi, turun dari 1,95 juta kali transaksi pada pekan sebelumnya. Rata-rata volume transaksi harian juga mengalami penurunan sebesar 18,85 persen, menjadi 32,428 miliar lembar saham, dari sebelumnya 39,959 miliar lembar saham. Penurunan ini mencerminkan sikap hati-hati para investor di pasar modal.
Perubahan Kapitalisasi Pasar dan IHSG
Selama sepekan tersebut, kapitalisasi pasar BEI mengalami penurunan sebesar 7,52 persen, menjadi Rp 8.862 triliun, dibandingkan dengan Rp 9.583 triliun pada pekan sebelumnya. IHSG ditutup pada level 5.057,050, mengalami koreksi sebesar 7,03 persen dari posisi penutupan sebelumnya yang mencapai 5.439,258. Pada perdagangan terakhir Jumat (30/10/2026), investor asing mencatatkan nilai jual bersih (net sell) sebesar Rp 138,71 miliar, dengan total nilai jual bersih sepanjang tahun 2026 mencapai Rp 97,921 triliun.
BEI menegaskan komitmennya untuk memperkuat reformasi dan pengembangan pasar modal Indonesia. Berbagai langkah strategis telah dijalankan sepanjang pekan ini, termasuk penguatan tata kelola dan pengawasan perdagangan, persetujuan pemegang saham atas agenda demutualisasi melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), kolaborasi internasional dengan Nasdaq, serta peluncuran indeks baru IDX Commodity 20. Inisiatif-inisiatif ini dirancang untuk menjaga kestabilan pasar modal dalam jangka panjang.
Pada awal pekan, tepatnya Senin (26/10/2026), BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar konferensi pers untuk menegaskan komitmennya dalam meningkatkan pengawasan perdagangan, transparansi, dan tata kelola mekanisme High Shareholding Concentration (HSC). Langkah ini diambil untuk menjaga transparansi dan melindungi investor.
Direktur Utama BEI, Jeffery Hendrik, juga menyampaikan bahwa FTSE Russell menempatkan Indonesia tetap dalam klasifikasi secondary emerging market dan tidak masuk dalam daftar pengawasan. BEI berencana untuk menyempurnakan pengawasan perdagangan dengan metodologi yang lebih efektif, termasuk memberikan informasi kepada publik terkait indikasi awal investigasi dugaan manipulasi pasar.
BEI juga mengumumkan bahwa komite HSC akan diperluas dengan menambah anggota eksternal independen dari kalangan pelaku industri, akademisi, dan perwakilan investor. Penambahan anggota ini bertujuan untuk meningkatkan objektivitas, transparansi, dan akuntabilitas dalam evaluasi konsentrasi kepemilikan saham. “Langkah ini merupakan bagian dari agenda reformasi struktural guna menjaga perdagangan yang teratur, wajar, dan efisien, sekaligus meningkatkan kredibilitas pasar modal Indonesia di mata investor domestik maupun global,” ungkap Jeffery.
Pada Rabu (28/10/2026), BEI mengadakan RUPSLB Tahun 2026 secara luring yang dihadiri oleh 88 pemegang saham, atau 98,88 persen dari total pemegang saham yang memiliki hak suara. Dalam RUPSLB tersebut, para pemegang saham BEI menyetujui secara bulat tiga agenda utama perseroan.