Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, mengumumkan bahwa Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, akan segera memulai proses hilirisasi untuk kratom dan kemenyan. Dalam pernyataannya di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa (20/10), Luhut menyatakan, "Sekarang era Presiden Prabowo, ada dari pertanian, yaitu hilirisasi kratom dan hilirisasi tadi kemenyan."
Peluang Ekonomi dari Hilirisasi
Luhut menjelaskan bahwa kedua produk tersebut memiliki nilai jual yang cukup tinggi di pasar internasional. Dengan hilirisasi yang dilakukan, potensi pendapatan bagi Indonesia bisa mencapai puluhan miliar dolar. Ia menilai langkah ini sebagai kemajuan yang signifikan, mirip dengan awal hilirisasi nikel yang dimulai satu dekade lalu.
Rencana Peresmian dan Ekspor Kratom
Selanjutnya, Prabowo juga dijadwalkan untuk meresmikan Pusat Riset mengenai Genome Sequencing di Toba, Sumatra Utara. Pusat riset ini diharapkan menjadi lokasi untuk hilirisasi kedua produk pertanian tersebut. Luhut menambahkan, "Ini saya kira juga kemajuan lain. Persiapan kami untuk ini segera bisa jalan dan Presiden bersedia nanti kalau semua sesuai dengan rencana pada bulan Maret tahun depan akan meresmikan ini."
Pemerintah Indonesia telah meresmikan ekspor kratom pada 26 Agustus 2024. Pada saat itu, Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan, mengeluarkan dua peraturan terkait ekspor kratom, yaitu Peraturan Menteri Perdagangan No. 20 Tahun 2024 dan Permendag Nomor 21 Tahun 2024.
Di sisi lain, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, menyoroti potensi besar ekspor kratom Indonesia ke Amerika Serikat. Ia menyebutkan bahwa 96 persen pasokan kratom yang masuk ke AS berasal dari Indonesia, dengan nilai ekspor mencapai US$350 juta atau setara dengan Rp5,8 triliun.
Rosan menjelaskan bahwa kratom adalah tanaman herbal yang banyak ditemukan di Kalimantan Barat dan digunakan untuk tujuan medis. Ia menambahkan bahwa ekspor kratom ke AS terus berlangsung, dengan pengiriman terbaru yang sudah dilakukan. Rosan mengungkapkan bahwa ia baru menyadari besarnya potensi ekspor kratom setelah berinteraksi dengan asosiasi terkait, dan menemukan bahwa produk ini memiliki pasar yang cukup besar dan diterima dengan baik di AS. "Saya juga baru engeh di sana. Kratom itu intinya adalah tanaman, yang terutama banyak di Kalbar, yang bisa dipakai untuk medikasi, pengobatan herbal. Dan ternyata 96 persen kratom yang masuk ke AS, adalah berasal dari Indonesia," jelasnya.