Fakta Ekonomi

Investor Manfaatkan Koreksi Harga Saham Bank untuk Akumulasi

Di tengah koreksi harga saham pada pasar modal, sejumlah investor memanfaatkan momen ini untuk mengakumulasi saham dari perusahaan-perusahaan yang memiliki fundamental yang kuat. Penurunan harga saham...

S
Stevani Nila Wardana
01 November 2026
7 pembaca
Foto: Republika/Prayogi
Foto: Republika/Prayogi

LOMBOK -- Koreksi harga saham yang terjadi di pasar modal memberikan kesempatan bagi beberapa investor untuk menambah kepemilikan saham dari perusahaan yang dianggap memiliki fundamental yang baik. Aksi akumulasi ini terlihat saat harga saham-saham berkapitalisasi besar, termasuk sektor perbankan, mengalami penurunan pada bulan Oktober 2026.

Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Agus Firmansyah menjelaskan bahwa investor yang memahami kondisi pasar tidak selalu bereaksi terhadap koreksi harga dengan menjual saham. Sebagian dari mereka justru memanfaatkan penurunan harga sebagai peluang untuk membeli saham yang diyakini memiliki prospek jangka panjang.

Contoh Pergerakan Pasar

Agus memberikan contoh pergerakan pasar pada tanggal 19 dan 20 Oktober 2026, ketika beberapa saham perbankan besar, seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), mengalami penurunan harga. “Investor yang cerdas dia pasti akan beli. Karena kemarin tekanannya itu kan hanya sentimen saja, kaget, panik, panic selling. Investor yang cerdas pada beli,” ungkap Agus dalam acara Capital Market Journalist Workshop Media Gathering 2026 di Lombok pada Sabtu malam, 31 Oktober 2026.

Aktivitas Investor Asing

Menurut Agus, koreksi harga tersebut juga dimanfaatkan oleh sebagian investor untuk membeli saham dari perusahaan yang memiliki fundamental yang kuat. Respons positif terlihat di kalangan komunitas investor saham ketika harga beberapa emiten mengalami penurunan. Di sisi lain, aktivitas investor asing tidak sepenuhnya didominasi oleh aksi jual. Meskipun secara kumulatif mencatatkan jual bersih (net sell), transaksi harian menunjukkan bahwa masih ada investor asing yang melakukan pembelian saham di pasar domestik.

“Memang banyaknya yang jual sehingga net-nya masih net sell. Sehingga total sampai dengan Oktober itu selama Januari ada net sell sekitar Rp97 triliun. Tapi secara harian ada yang beli, ada yang jual,” jelas Agus. Ia menambahkan bahwa investor asing yang memiliki analisis teknikal dan mampu membaca pergerakan pasar juga berpeluang memanfaatkan koreksi harga untuk melakukan pembelian. Dengan demikian, angka jual bersih secara keseluruhan tidak serta-merta menunjukkan seluruh investor asing menarik dananya dari pasar modal Indonesia.

Agus menekankan pentingnya melihat kondisi pasar dengan mempertimbangkan aktivitas transaksi secara menyeluruh, baik dari sisi pembelian maupun penjualan. Perbedaan strategi dan pertimbangan investasi membuat respons setiap investor terhadap tekanan pasar tidak selalu seragam. Meskipun demikian, penurunan harga saham tidak otomatis menjadikannya murah atau layak dibeli. Investor tetap perlu memperhatikan kondisi fundamental perusahaan, prospek usaha, dan risiko sebelum mengambil keputusan investasi.

Artikel Terkait