Industri manufaktur saat ini dihadapkan pada kebutuhan untuk memperbaiki cara pengelolaan tenaga kerja, dengan penekanan pada kontribusi terhadap target operasional dan bukan sekadar memenuhi jumlah pekerja. Ini menjadi sangat penting mengingat adanya tekanan biaya, perubahan dalam kebutuhan produksi, serta kompleksitas dalam kegiatan industri. Pandangan ini disampaikan dalam acara Staffinc Industry Executive Forum (SIEF) 2026 yang berlangsung di Cikarang pada Kamis, 22 Oktober.
Diskusi Tantangan Pengelolaan Tenaga Kerja
Forum yang mengusung tema "Achieving Operational Excellence at Scale: Managing Complexity Across People, Processes & Technology in the Manufacturing Industry" ini mengumpulkan berbagai pelaku industri untuk membahas tantangan dalam pengelolaan tenaga kerja di sektor manufaktur. Tety Yanuati, yang juga menjabat sebagai Ketua FKHR EJIP dan GM PT Kanefusa Indonesia, membahas dinamika yang terjadi dalam industri manufaktur, termasuk tantangan yang dihadapi perusahaan terkait tekanan biaya dan kepatuhan terhadap regulasi. Ia menekankan pentingnya pengelolaan tenaga kerja yang dapat beradaptasi dengan perubahan kebutuhan industri, serta memastikan ketersediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan operasional agar proses produksi dapat berjalan dengan efektif.
Pentingnya Integrasi Teknologi dalam Pengelolaan Tenaga Kerja
Dalam forum tersebut, Dr. Wahyitno, seorang praktisi senior dalam manajemen SDM, menguraikan fluktuasi kebutuhan produksi dan pentingnya pengelolaan tenaga kerja yang berbasis sistem shift. Ia juga menekankan perlunya kesiapan dan penempatan pekerja yang tepat sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Febriandi, selaku Kepala Pengembangan Bisnis Staffinc, menjelaskan pendekatan Result Driven Workforce Solutions dalam pengelolaan tenaga kerja. Ia menyatakan bahwa pemenuhan kebutuhan pekerja harus diimbangi dengan pengelolaan kinerja yang terukur, yang terhubung dengan indikator operasional serta target bisnis perusahaan. Integrasi tenaga kerja dengan teknologi, data, dan proses kerja yang terstruktur juga dianggap penting untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kinerja tenaga kerja dan meningkatkan konsistensi operasional.
Dalam konteks ini, pengelolaan tenaga kerja tidak hanya berkaitan dengan jumlah pekerja, tetapi juga meliputi kesiapan keterampilan, proses kerja, pengawasan, serta pemanfaatan teknologi dan data. Semua faktor ini berperan dalam menjaga produktivitas perusahaan di tengah perubahan kebutuhan produksi. Forum ini juga menyajikan sesi SIEF Live Assessment dan diskusi kelompok yang dimoderatori oleh Nadya Yosephine, di mana peserta membahas berbagai isu dalam pengelolaan tenaga kerja, termasuk visibilitas data dan koordinasi antara fungsi sumber daya manusia dan operasional.
Selain itu, diadakan juga APTIKNAS AI Executive Workshop yang dihadiri oleh Wakil Ketua I Bidang Digital Talent APTIKNAS, Sandy Kusuma, yang membahas pemanfaatan kecerdasan buatan dalam mendukung kegiatan operasional perusahaan. SIEF merupakan bagian dari rangkaian forum yang diselenggarakan oleh Staffinc Group di beberapa kota, termasuk Bekasi, Cikarang, Jakarta, dan Bandung, sepanjang bulan Oktober hingga November 2026.