Fakta Ekonomi

KAI Mulai Uji Coba Biodiesel B50 untuk Transisi Energi yang Lebih Baik

PT Kereta Api Indonesia (Persero) telah memulai uji coba penggunaan biodiesel B50 dalam operasional kereta api sebagai langkah untuk mempercepat transisi energi dan mendukung program energi terbarukan...

A
Amara Rukmana
14 June 2026
6 pembaca
KAI Mulai Uji Coba Biodiesel B50 untuk Transisi Energi yang Lebih Baik
Foto: ANTARA FOTO/Abdan Syakura

PT Kereta Api Indonesia (Persero) telah memulai pengujian penggunaan biodiesel B50 dalam operasional kereta api. Langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk mempercepat transisi energi dan mendukung inisiatif energi baru terbarukan yang dicanangkan oleh pemerintah.

Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menjelaskan bahwa penggunaan B50 adalah kelanjutan dari rencana pemanfaatan biodiesel yang telah dilaksanakan secara bertahap oleh perusahaan dalam beberapa tahun terakhir. Ia menekankan bahwa transformasi energi di sektor transportasi memerlukan kesiapan operasional yang terukur untuk menjaga keselamatan, keandalan layanan, dan efisiensi energi. "Transformasi energi Indonesia membutuhkan sektor transportasi yang mampu beradaptasi secara terukur. KAI memperkuat peran kereta api melalui roadmap biodiesel dari B0 menuju B50, dengan memastikan setiap tahapan berjalan selaras dengan keselamatan, keandalan layanan, efisiensi energi, dan penurunan emisi," ungkap Bobby.

Peran Strategis Sektor Perkeretaapian

Bobby juga menjelaskan bahwa sektor perkeretaapian memiliki posisi yang sangat strategis dalam mendukung ketahanan energi nasional. Hal ini dikarenakan kereta api tidak hanya melayani mobilitas masyarakat, tetapi juga distribusi logistik dalam skala besar. Dengan demikian, setiap upaya efisiensi energi yang dilakukan oleh KAI diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap keberlanjutan layanan transportasi publik serta daya saing logistik nasional. "KAI harus memastikan bahwa transisi energi menghasilkan manfaat nyata, baik dari sisi keandalan layanan, efisiensi energi, maupun kontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan," tambahnya.

Uji Coba dan Evaluasi Penggunaan B50

Anne Purba, Wakil Presiden Komunikasi Korporat KAI, mengungkapkan bahwa pengujian teknis penggunaan B50 telah dimulai sejak April 2026 dan dilakukan bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Pengujian ini meliputi lokomotif dan genset kereta api untuk mengevaluasi performa mesin, konsumsi bahan bakar, emisi, serta ketahanan sarana dalam kondisi operasional. Pada pengujian lokomotif, KAI menggunakan lokomotif CC206 yang dioperasikan bersama rangkaian KA Sembrani. Sedangkan pengujian genset dilakukan pada KA Bogowonto dengan membandingkan performa penggunaan bahan bakar B40 dan B50. "Hasil pengujian menjadi dasar evaluasi KAI, terutama terkait performa mesin, konsumsi bahan bakar, stabilitas operasional, kondisi filter, aspek emisi, dan kebutuhan perawatan sarana. Prinsip kami jelas, transisi energi harus berjalan sejalan dengan keselamatan dan keandalan operasi," jelas Anne.

Saat ini, KAI masih melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap hasil pengujian sebelum penerapan B50 secara lebih luas dalam operasional kereta api. Penggunaan biodiesel di lingkungan KAI telah meningkat secara bertahap, dimulai dari B20 pada 2018-2019, B30 pada 2020-2022, B35 pada 2023-2024, hingga B40 pada 2025-2026, sebelum memasuki tahap pengujian B50 pada tahun ini. Dari segi keberlanjutan, transisi dari B35 ke B50 diperkirakan dapat mengurangi emisi hingga 133.676 ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e), yang menjadi kontribusi signifikan dalam program dekarbonisasi KAI untuk periode 2025-2030.

Bobby menegaskan bahwa KAI akan terus memperkuat peran transportasi berbasis rel dalam mendukung transformasi energi nasional. Ia menekankan bahwa keberlanjutan harus berjalan seiring dengan layanan transportasi yang aman, andal, dan terjangkau. "Roadmap biodiesel dari B0 menuju B50 menunjukkan bahwa kereta api memiliki peran penting dalam transformasi energi Indonesia. Dengan dukungan pemerintah, KAI akan terus menjaga layanan transportasi publik dan logistik tetap andal, sekaligus memperkuat kontribusi terhadap ketahanan energi nasional, penurunan emisi, dan daya saing ekonomi," tutup Bobby.

Artikel Terkait