Jakarta - Maulana Rifky Yavianda, mahasiswa program pascasarjana Manajemen Olahraga di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), berhasil membawa pulang empat medali dari Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026. Pada Senin, 19 Oktober, ia mencetak sejarah dengan menjadi penyumbang medali emas pertama untuk Indonesia di nomor 100 meter gaya bebas putra S12 yang berlangsung di Nagoya Citi General Gymnasium.
Rifky mencatatkan waktu 55,34 detik, hanya terpaut 0,10 detik dari perenang Uzbekistan, Dmitriy Khorlin, yang berada di posisi kedua. Sementara itu, perenang tuan rumah Jepang, Genki Saito, menempati posisi ketiga dengan selisih waktu 2,20 detik dari Rifky.
Rekor Baru di Nomor Gaya Punggung
Medali emas kedua diraih Rifky di nomor 100 meter gaya punggung S12 putra dengan waktu 1 menit 3,07 detik, yang sekaligus memecahkan rekor Asia sebelumnya yang dipegang oleh Genki Saito dengan waktu 1 menit 3,46 detik, yang dicatat pada Mei 2026. Di nomor ini, Saito finis di posisi kedua dengan waktu 1 menit 3,76 detik, sedangkan Khorlin menempati posisi ketiga dengan catatan 1 menit 5,77 detik.
Selain dua medali emas, Rifky juga berhasil meraih dua medali perak di nomor 100 meter gaya kupu-kupu S12 putra dan 50 meter gaya bebas S13 putra.
Dukungan Keluarga dan Tekanan Kompetisi
Selama menjalani latihan resmi cabang olahraga renang Asian Para Games 2026 di General Gymnasium Rainbow Pool, Nagoya, Jepang, Rifky mendapatkan dukungan penuh dari keluarganya, termasuk istri dan anaknya yang baru berusia 10 bulan. Ia mengungkapkan bahwa waktu yang dihabiskan bersama keluarga sebelum berangkat ke Jepang membantu mengurangi tekanan yang dirasakannya menjelang kompetisi.
Setibanya di Jepang, Rifky tetap menjaga komunikasi dengan keluarganya melalui panggilan video untuk mengatasi rasa rindunya. "Untuk istri dan anak, nggak ada yang lain motivasi saya bisa berenang lepas, berusaha semaksimal mungkin, itu yang bikin motivasi saya, bikin tambah tenang," ujarnya.
Meski telah melampaui target pribadinya, Rifky mengakui bahwa ia merasa tertekan untuk meraih hasil terbaik saat bertanding. Ia menjelaskan bahwa tim pelatihnya tidak secara khusus menargetkan medali emas. "Jujur, kalau berangkat dari sini sebenarnya target dari pelatih juga nggak ada. Untuk target diri sendiri itu ada. Cuman setelah sampai sini, lihat lawan-lawan, ya sempat deg-degan," tuturnya.
Pada nomor gaya punggung, Rifky memilih untuk menikmati perlombaan dan fokus pada performanya sendiri, yang membantunya lebih rileks dan akhirnya berhasil memecahkan rekor Asia.
Capaian ini menjadi motivasi tambahan bagi Rifky untuk meningkatkan kualitas latihan dan mempersiapkan diri menuju Paralimpiade Los Angeles. "Latihan sekeras mungkin. Jangan lupa berdoa. Usaha dan doa, nanti hasil Allah yang menentukan," ungkapnya.