Fakta Ekonomi

Kebutuhan Infrastruktur Adaptif dalam Transformasi Digital Perbankan

Transformasi digital yang pesat mendorong sektor perbankan di Indonesia untuk memperkuat infrastruktur teknologi agar lebih responsif terhadap kebutuhan bisnis yang berubah. Lintasarta memperkenalkan...

P
Panca Akbar Saputra
13 September 2026
3 pembaca
Foto: Lintasarta
Foto: Lintasarta

Transformasi digital yang semakin meluas mendorong industri perbankan di Indonesia untuk memperkuat infrastruktur teknologi yang tidak hanya memiliki kapasitas besar, tetapi juga mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan kebutuhan bisnis. Hal ini menjadi fokus dalam Lintasarta Executive Dialogue yang mengusung tema Mastering Digital Infrastructure in the Intelligent Banking Era Through Bandwidth on Demand (BWoD), yang diselenggarakan oleh Lintasarta bekerja sama dengan Infobank di Jakarta.

Pertemuan Strategis untuk Meningkatkan Infrastruktur Digital

Forum ini mempertemukan para pemimpin bank nasional dan multinasional yang tergabung dalam Himbara, Perbanas, dan Asbanda, serta pejabat tinggi dari Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pertemuan ini menjadi wadah strategis untuk membahas kesiapan infrastruktur digital dalam menghadapi perkembangan industri perbankan yang semakin dinamis. Salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh sektor perbankan adalah perubahan kebutuhan kapasitas teknologi yang dapat terjadi secara mendadak.

Solusi Bandwidth on Demand untuk Konektivitas Fleksibel

Periode penutupan bulan, penutupan tahun, pemrosesan gaji, pemulihan bencana, dan peluncuran aplikasi baru dapat meningkatkan kebutuhan kapasitas konektivitas secara signifikan. Untuk menjawab tantangan tersebut, Lintasarta memperkenalkan solusi Bandwidth on Demand (BWoD) yang memungkinkan bank untuk menyesuaikan kapasitas bandwidth dengan lebih fleksibel dan mandiri. Solusi ini menawarkan kapasitas hingga 1 Gbps di wilayah yang memiliki kesiapan teknis, serta kemampuan untuk meningkatkan atau menurunkan kapasitas sesuai kebutuhan, dengan layanan mandiri melalui Super Apps Ultima.

Direktur Utama & CEO Lintasarta, Armand Hermawan, menyatakan bahwa digitalisasi perbankan memerlukan infrastruktur yang dapat mengikuti perubahan kebutuhan bisnis dengan cepat. “Infrastruktur digital tidak cukup hanya berkapasitas besar, tetapi harus mampu beradaptasi secara cepat, fleksibel, dan terukur,” ungkap Armand. Ia menjelaskan bahwa kapasitas perbankan dapat berubah mengikuti berbagai kondisi seperti penutupan bulan, penutupan tahun, pemrosesan gaji, pemulihan bencana, peluncuran aplikasi, dan situasi yang tidak terduga. Oleh karena itu, konektivitas perlu berkembang dari infrastruktur yang tetap menjadi lebih adaptif.

Transformasi ini harus didukung oleh empat kapabilitas utama, yaitu kemampuan untuk merespons perubahan dengan cepat, menyesuaikan kapasitas, menjaga keandalan, serta siap menghadapi peristiwa puncak, pemulihan bencana, dan tuntutan regulasi. Dengan BWoD, Armand menjelaskan, setelah proses pengaturan awal, perubahan bandwidth berikutnya dapat dilakukan secara mandiri melalui Ultima tanpa perlu proses pemesanan manual dan instalasi baru. Kapasitas dapat disesuaikan berdasarkan layanan yang berlangganan, dengan dukungan hingga 1.000 Mbps pada tier tertentu. “Kami ingin memberikan agility kepada bank untuk mengelola kapasitas konektivitas sesuai kebutuhan operasionalnya,” tambahnya.

BWoD merupakan salah satu implementasi dari Lintasarta Intelligent Core, yang mengintegrasikan pelanggan, Super Apps Ultima, Intelligent Core Engine, dan core network dalam proses yang mendukung eksekusi waktu nyata dan pengambilan keputusan secara mandiri. Pendekatan ini memungkinkan pengelolaan konektivitas dilakukan dengan lebih cepat dan otomatis. Untuk tahap awal, BWoD akan tersedia di 84 kota di Pulau Jawa pada tahun 2026, dengan pengembangan cakupan secara bertahap menuju jangkauan nasional.

"Inovasi ini memperkuat komitmen kami sebagai mitra infrastruktur digital perbankan dengan konektivitas yang lebih adaptif terhadap kebutuhan bisnis," tutup Armand. Anggota Dewan Komisioner OJK periode 2022-2026, Sophia Isabella Wattimena, juga menekankan pentingnya penguatan infrastruktur teknologi dalam mendukung transformasi digital perbankan. “Transformasi digital perbankan perlu berjalan seiring dengan penguatan kapabilitas infrastruktur teknologi. Keandalan, keamanan, manajemen risiko, dan kemampuan infrastruktur untuk mendukung kebutuhan industri menjadi semakin penting,” tutupnya.

Artikel Terkait