Fakta Nasional

Kejadian Banjir Tak Terduga di Musim Kemarau

Meskipun Indonesia sedang mengalami musim kemarau, beberapa daerah justru dilanda banjir. Beberapa lokasi yang terdampak termasuk Tapanuli Tengah, Agam, dan Sinjai.

P
Panca Akbar Saputra
20 July 2026
53 pembaca
Banjir bandang di Agam (Foto: Dok. BPBD Kabupaten Agam)
Banjir bandang di Agam (Foto: Dok. BPBD Kabupaten Agam)

Jakarta - Saat ini Indonesia tengah berada dalam periode kemarau, namun sejumlah wilayah justru mengalami anomali banjir. Beberapa daerah yang mengalami banjir antara lain Tapanuli Tengah di Sumatera Utara, Agam di Sumatera Barat, serta Sinjai di Sulawesi Selatan. Banyak warga di daerah yang terdampak terpaksa mengungsi akibat kondisi ini.

"Terdapat anomali kejadian yaitu banjir bandang di Kabupaten Agam," ungkap Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam sebuah keterangan tertulis pada Minggu (19/7/2026).

Banjir Bandang di Agam

Banjir bandang yang terjadi di Agam berlangsung di tengah musim kemarau, dipicu oleh hujan deras yang mengguyur dan pendangkalan aliran Sungai Batang Tumayo. Hal ini menyebabkan air meluap ke permukiman warga. Dalam video yang dirilis oleh BNPB, terlihat air berwarna cokelat mengalir deras di depan rumah-rumah penduduk, bahkan masuk ke dalam rumah mereka.

Abdul Muhari melaporkan bahwa sekitar 90 kepala keluarga (KK) terdampak oleh banjir ini. "Ketika kejadian, sebanyak 450 warga mengungsi sementara waktu. Menjelang dini hari, banjir dilaporkan mulai surut dan sebagian pengungsi kembali ke rumah masing-masing," jelasnya. Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan bencana dan memantau informasi terbaru dari sumber resmi.

Banjir di Tapanuli Tengah dan Sinjai

Sementara itu, hujan deras juga menyebabkan banjir bandang di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, yang berdampak pada sekitar 200 kepala keluarga. Banjir melanda Kelurahan Sipange pada Jumat (17/7) sekitar pukul 17.00 WIB akibat jebolnya tanggul darurat sungai Aek Silaga Laga. "Hujan deras mengguyur wilayah Kecamatan Tukka menyebabkan jebolnya tanggul," demikian laporan dari BPBD Sumut yang disampaikan pada Minggu (19/7).

Akibat jebolnya tanggul, air masuk ke rumah-rumah penduduk, dan 200 KK terdampak banjir tersebut. BNPB menyatakan bahwa banjir mulai surut pada Minggu (19/7), dan wilayah yang terkena dampak meliputi tujuh kelurahan di empat kecamatan, yaitu Kecamatan Tukka, Badiri, Pinangsori, dan Sarudik. Sebanyak 145 jiwa dari Kelurahan Sipange mengungsi di Gedung Gereja HKBP Sipange, dan dapur umum telah didirikan untuk memenuhi kebutuhan makanan bagi warga yang terdampak.

Di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, banjir juga merendam sejumlah wilayah, termasuk kantor instansi pemerintah dan rumah jabatan Bupati Sinjai. "Sejumlah kantor pemerintah tergenang banjir setinggi 40 sentimeter hingga 1 meter. Rujab juga, tinggi banjir 40 sentimeter," kata Analis Bencana BPBD Sinjai, Andi Octave Amier, pada Minggu (19/7).

Banjir di Sinjai terjadi di Balangnipa, Biringere, Bongki, Kecamatan Sinjai Utara pada Minggu (19/7) sekitar pukul 03.00 Wita. Hujan yang tinggi sejak Sabtu (18/9) malam menyebabkan air Sungai Tangka dan anak Sungai Bontompare meluap, merendam perumahan warga dan fasilitas umum lainnya.

Peringatan Cuaca Ekstrem dari BMKG

BMKG telah mengeluarkan peringatan terkait cuaca ekstrem berupa hujan lebat hingga sangat lebat di Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Berdasarkan informasi yang dirilis oleh BMKG pada Minggu (19/7/2026), daerah yang berpotensi mengalami cuaca ekstrem ditandai dengan warna kuning dan oranye.

Berikut adalah potensi cuaca ekstrem selama tiga hari ke depan berdasarkan data BMKG: Aceh, Bali, dan Banten diharapkan mengalami hujan sedang hingga lebat, sementara daerah lainnya juga diimbau untuk waspada terhadap angin kencang dan hujan lebat.

Dengan situasi ini, masyarakat diharapkan tetap waspada dan mengikuti perkembangan informasi cuaca dari sumber yang terpercaya.

Artikel Terkait