Fakta Ekonomi

Kesepakatan Damai AS-Iran Dorong Penguatan IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penguatan yang signifikan di awal pekan ini, didorong oleh kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang meningkatkan minat investor terhadap aset...

A
Agustinus Jaya Wiratama
15 June 2026
10 pembaca
Kesepakatan Damai AS-Iran Dorong Penguatan IHSG
Foto: Republika/Prayogi

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan awal pekan dengan kenaikan yang cukup berarti. Sentimen positif yang muncul dari pasar global, terutama setelah terjadinya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, telah meningkatkan ketertarikan investor terhadap aset berisiko. IHSG dibuka dengan kenaikan sebesar 111,07 poin atau 1,85 persen, mencapai level 6.118,73. Sementara itu, indeks LQ45 yang mencakup saham-saham unggulan juga mengalami penguatan, naik 13,38 poin atau 2,24 persen menjadi 601,83.

Sentimen Global Mendorong Optimisme Pasar

Menurut Liza Camelia Suryanata, Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, perbaikan sentimen global membuka peluang bagi penguatan pasar saham domestik. "Kiwoom Research cukup optimis untuk rekomendasikan average up bertahap," ungkap Liza dalam analisisnya di Jakarta.

Perhatian pelaku pasar selama akhir pekan ini tertuju pada perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan bahwa kesepakatan damai antara AS dan Iran telah selesai dan dijadwalkan untuk ditandatangani secara resmi di Swiss pada 19 Juni 2026. Kazem Gharibabadi, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, juga mengonfirmasi bahwa memorandum of understanding (MoU) antara kedua negara telah final. Kesepakatan ini mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap Iran, serta pelepasan aset Iran senilai 25 miliar dolar AS yang sebelumnya dibekukan. Iran juga berkomitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir selama proses negosiasi berlanjut.

Pengaruh Terhadap Pasokan Energi Global

Meski begitu, Iran menegaskan bahwa pengelolaan Selat Hormuz tetap berada di bawah otoritas Iran dan Oman, termasuk kemungkinan penerapan biaya layanan navigasi dan keamanan. Liza menilai bahwa perkembangan ini meredakan kekhawatiran pasar terkait potensi gangguan pasokan energi global yang selama ini menjadi salah satu sumber ketidakpastian ekonomi dunia. "Membaiknya situasi geopolitik mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global dan langsung meningkatkan selera risiko investor," kata Liza.

Selain isu geopolitik, perhatian investor pekan ini juga tertuju pada rapat bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), yang kali ini dipimpin oleh Kevin Warsh. Pasar memperkirakan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen. Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati proyeksi Bank Dunia yang memperkirakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia akan tetap berada di level 2,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2026 dan 2027, sebelum turun menjadi 2,7 persen pada tahun 2028.

Proyeksi tersebut dipengaruhi oleh tekanan subsidi energi, pelaksanaan program prioritas pemerintah, serta peningkatan beban bunga utang yang diperkirakan akan meningkat dari 18,7 persen menjadi 19,2 persen dari total penerimaan negara pada tahun 2028. Di sektor keuangan, Bank Indonesia dan People's Bank of China (PBOC) memperluas kerja sama melalui peningkatan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA), perluasan transaksi mata uang lokal, serta peluncuran sistem pembayaran QR lintas batas Indonesia-China.

Sementara itu, Danantara melalui PT Danantara Investment Management (DIM) telah menerbitkan obligasi global perdana senilai 1,5 miliar dolar AS sebagai bagian dari program Global Medium Term Notes (GMTN) senilai 5 miliar dolar AS. Pada perdagangan akhir pekan lalu, mayoritas bursa saham global juga ditutup menguat, dengan indeks Euro Stoxx 50 naik 2,16 persen, FTSE 100 Inggris menguat 1,63 persen, DAX Jerman naik 1,76 persen, dan CAC 40 Prancis menguat 1,83 persen. Di Amerika Serikat, indeks Dow Jones menguat 0,17 persen, S&P 500 naik 0,50 persen, dan Nasdaq Composite bertambah 0,31 persen. Bursa saham Asia pada perdagangan pagi ini juga menunjukkan pergerakan positif, dengan indeks Nikkei naik 5,44 persen, Shanghai Composite menguat 0,94 persen, Hang Seng naik 0,43 persen, dan Strait Times menguat 1,14 persen.

Artikel Terkait