Industri makanan dan minuman di Indonesia kini menghadapi masalah serius terkait ketersediaan bahan baku menjelang awal tahun 2027. Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) mengungkapkan bahwa situasi ini disebabkan oleh ketidakjelasan Neraca Komoditas untuk tahun depan. Ketua Umum Gapmmi, Adhi S Lukman, menyatakan bahwa persediaan bahan baku saat ini belum memenuhi kebutuhan yang ada.
Permintaan Percepatan Neraca Komoditas
Adhi mengungkapkan bahwa beberapa stok bahan baku belum memiliki kontrak, sementara yang lainnya tidak mencukupi untuk kebutuhan produksi. Ia juga menekankan bahwa Gapmmi telah meminta pemerintah untuk segera mempercepat penetapan Neraca Komoditas guna memastikan ketersediaan bahan baku industri. “Ya, kami sebetulnya sudah menyampaikan beberapa kebutuhan tambahan untuk bahan baku. Karena ternyata ada beberapa industri anggota kami yang kekurangan," ujarnya di Jakarta.
Bahan Baku yang Menipis dan Dampaknya
Beberapa bahan baku yang menjadi perhatian utama menurut Adhi adalah gula, garam, jagung, dan daging. Gapmmi memperkirakan bahwa persediaan yang ada saat ini akan habis pada awal tahun 2027. Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menekankan bahwa situasi ini memerlukan perhatian dari pemerintah. Jika dibiarkan, akan ada risiko kelangkaan barang dan antrean konsumen yang dapat menimbulkan keresahan di masyarakat. “Yang jelas faktor kelangkaan itu sendiri dan juga antrean yang kemungkinan ini akan meresahkan konsumen, itu yang perlu diantisipasi," tegas Faisal.
Pemerintah tentunya berupaya menghindari kelangkaan bahan makanan di tengah berbagai tantangan lain, termasuk kelangkaan BBM dan pemadaman listrik yang semakin sering terjadi di Indonesia. Neraca Komoditas sendiri merupakan alat yang digunakan pemerintah untuk memuat data kebutuhan dan pasokan komoditas secara nasional, termasuk bahan baku dan bahan penolong untuk industri.
Data yang terdapat dalam Neraca Komoditas mencakup kebutuhan industri, persediaan, serta hasil produksi komoditas. Pemerintah memanfaatkan informasi ini sebagai dasar dalam penyusunan kebijakan serta perizinan ekspor-impor. Dalam konteks industri makanan dan minuman, percepatan penetapan Neraca Komoditas sangat penting untuk menyelaraskan kebutuhan perusahaan dengan pasokan yang ada.
Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, ketersediaan bahan baku secara keseluruhan masih mencukupi hingga akhir tahun 2026. Namun, pemerintah perlu memastikan bahwa persediaan yang ada dapat memenuhi kebutuhan masing-masing perusahaan. “Jadi berkecukupan, cuma tadi tinggal ada jumlahnya, kuantitasnya berkecukupan, nah ini yang perlu dipertemukan. Kebutuhan dan dari yang punya sekarang. Tapi secara totalnya mencukupi," jelasnya.
Di sisi lain, Adhi dari Gapmmi mengungkapkan bahwa kondisi saat ini sudah mengkhawatirkan. Jika tidak ada tambahan pasokan, persediaan bahan baku yang dimiliki industri akan habis pada awal tahun 2027. Kepastian pasokan sangat krusial bagi industri makanan dan minuman, karena ketidakpastian ini dapat mengganggu kelancaran produksi dan menekan daya saing perusahaan dalam menjaga harga produk agar tetap terjangkau di pasar global.
Langkah yang Harus Diambil
Faisal menilai bahwa gangguan pasokan bahan baku dapat berdampak pada harga dan ketersediaan produk makanan dan minuman yang dikonsumsi masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah perlu mengambil langkah antisipatif sebelum masalah ini memengaruhi konsumen. “Jadi produk turunan yang diolah industri ini yang akan punya dampak serius kepada masyarakat, konsumen,” kata Faisal.
Ia juga menyarankan agar pemerintah segera memperkuat koordinasi antara Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Pertanian. Koordinasi ini diperlukan untuk memastikan bahwa pasokan dari produksi dalam negeri maupun impor sesuai dengan kebutuhan industri. "Jadi semuanya, berapa besarannya yang harus diimpor atau yang harus disuplai dari dalam negeri dari waktu ke waktu, itu kan mestinya dipantau dengan Neraca Komoditas tadi. Jadi sangat penting memang untuk disegerakan," ungkapnya.