Jakarta - Iran telah mengumumkan penutupan Selat Hormuz setelah serangan Israel di Lebanon. Militer Amerika Serikat menyatakan pada hari Sabtu bahwa mereka tetap "hadir dan waspada" di jalur pelayaran yang sangat penting ini.
Dalam sebuah pernyataan, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyampaikan, "Pasukan AS tetap hadir dan waspada untuk memastikan semua aspek perjanjian dengan Iran dipatuhi, dipatuhi, dan berlaku penuh." Pernyataan ini dirilis pada pukul 10.30 waktu setempat (21.30 WIB) dan dilansir oleh AFP.
Aktivitas di Selat Hormuz
CENTCOM, yang bertanggung jawab atas pengawasan pasukan AS di Timur Tengah, melaporkan bahwa pada hari Sabtu, sebanyak 55 kapal komersial telah melintasi selat tersebut. Mereka juga menegaskan bahwa "jalur aman melalui jalur air internasional tetap utuh hingga saat ini."
Iran sebelumnya mengumumkan penutupan selat sebagai respons terhadap serangan Israel yang dianggap sebagai pelanggaran terhadap perjanjian yang rapuh dengan Amerika Serikat. Ketegangan ini meningkat bersamaan dengan kabar bahwa negosiator dari AS dan Iran diperkirakan akan berada di Swiss untuk melanjutkan pembicaraan mengenai implementasi perjanjian tersebut.
Persiapan Negosiasi
Wakil Presiden JD Vance, dalam wawancara dengan Fox News sebelum pengumuman dari Iran, menyatakan bahwa dia merencanakan perjalanan ke Swiss dalam "beberapa hari ke depan" untuk berpartisipasi dalam negosiasi tersebut. Selain itu, perusahaan pelacak maritim melaporkan bahwa lalu lintas di Selat Hormuz telah meningkat ke tingkat tersibuk dalam dua bulan terakhir.
Ketegangan yang meningkat ini menandai situasi yang semakin kompleks di kawasan, di mana interaksi antara kekuatan regional dan internasional terus berlanjut.