Fakta Nasional

Kisah Hidup Pierre Tendean, Ajudan Jenderal Nasution dalam Peristiwa G30S

Pierre Tendean, seorang perwira muda TNI yang lahir dari keturunan Prancis dan Minahasa, dikenal karena pengorbanannya dalam melindungi Jenderal AH Nasution saat peristiwa G30S.

F
Fidzu Ardaf
30 September 2026
28 pembaca
Pierre Tendean bersama keluarga (Dok. Buku Pierre Tendean karya Masykuri 1983/1984).
Pierre Tendean bersama keluarga (Dok. Buku Pierre Tendean karya Masykuri 1983/1984).

Pierre Tendean, yang lahir di Jakarta pada 21 Februari 1939, merupakan sosok yang memiliki darah Prancis dan Minahasa. Ayahnya berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara, sementara ibunya adalah keturunan Belanda-Prancis. Pierre menghabiskan masa kecilnya di Cisarua, Jawa Barat, dalam kehidupan yang sederhana, sebelum akhirnya keluarganya pindah ke Magelang.

Sejak kecil, Pierre dikenal sebagai anak yang suka menolong teman-temannya, baik di sekolah maupun di luar. Ia juga membantu keluarganya dengan menanami tanah kosong di sekitar rumah. Pada tanggal 30 September, peristiwa Gerakan 30 September 1965 terjadi, yang mengakibatkan gugurnya beberapa Pahlawan Revolusi, termasuk Pierre Andries Tendean, yang merupakan perwira muda TNI.

Pengorbanan Pierre Tendean

Pierre Tendean rela mengorbankan nyawanya untuk melindungi Jenderal AH Nasution. Ketika pasukan Cakrabirawa mencari Jenderal Nasution di kediamannya di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Pierre dengan berani mengaku sebagai sang Jenderal. Tindakan ini menunjukkan keberanian dan dedikasinya kepada negara.

Masa Kecil dan Pendidikan Pierre

Pierre Tendean, yang memiliki nama lengkap Pierre Andries Tendean, lahir di Rumah Sakit CBZ, yang kini dikenal sebagai Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) di Jakarta. Ia adalah anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga AL Tendean, yang memiliki dua saudara perempuan. Ketika Pierre berusia satu tahun, keluarganya pindah ke Tasikmalaya, Jawa Barat, dan kemudian ke Cisarua. Di sana, ayahnya bekerja di rumah sakit dan keluarganya hidup dengan sederhana.

Menjelang kedatangan tentara Jepang, keluarga Tendean pindah ke Magelang, di mana ayahnya menjabat sebagai Wakil Kepala Rumah Sakit Jiwa Keramat. Pierre menghabiskan masa kanak-kanaknya di kota ini dan menyelesaikan pendidikan sekolah dasarnya. Ia dikenal ramah dan mudah bergaul dengan teman-temannya, serta memiliki sifat yang tidak membeda-bedakan orang.

Di masa penjajahan Jepang dan awal Revolusi Kemerdekaan, keluarga Tendean mengalami kesulitan ekonomi, namun mereka tetap menolak bekerja sama dengan penjajah. Selama masa Revolusi, keluarga ini secara diam-diam membantu gerilyawan, dengan ibunya mengumpulkan dana untuk mendukung perjuangan. Pierre, meski masih anak-anak, menunjukkan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitarnya.

Pada waktu libur sekolah, Pierre sering membantu teman-temannya mencari siput di sawah untuk menambah lauk di rumah mereka. Ia juga menanami tanah kosong di sekitar rumahnya dengan berbagai tanaman. Kakaknya, Mitze Farre, menyatakan bahwa Pierre adalah anak yang sederhana, rajin, dan tidak manja, meskipun ia merupakan satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga.

Pierre juga memiliki hobi berenang di sungai kecil di dekat rumahnya, meskipun orangtuanya melarangnya karena airnya yang kotor. Kemampuan berenangnya kelak akan menyelamatkannya dari pengejaran tentara Inggris saat menjalankan misi intelijen di Malaysia.

Artikel Terkait