Hubungan antara Indonesia dan Singapura mengalami ketegangan yang cukup signifikan belakangan ini. Sejumlah ekonom mengungkapkan bahwa perselisihan di antara kedua negara tetangga ini dapat merugikan satu sama lain dalam aspek ekonomi, terutama terkait investasi dan perdagangan.
"Dari sisi ekonomi kalau kedua negara berkonflik, maka itu justru akan saling merugikan. Singapura merupakan salah satu investor PMA yang terbesar di Indonesia, artinya mereka penting bagi Indonesia, dan sebaliknya Indonesia juga dinilai prospek bagi Singapura," kata Eko Listiyanto, seorang ekonom dan Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), dalam sebuah wawancara.
Risiko Terhadap Perdagangan Internasional
Eko menambahkan bahwa dalam konteks perdagangan internasional, baik Singapura maupun Indonesia adalah mitra dagang utama satu sama lain. Oleh karena itu, konflik yang terjadi dapat merugikan kepentingan ekonomi kedua negara. "Tentu, kalau 'pertengkaran dan sindir-menyindir' ini tidak diakhiri akan berdampak negatif ke sentimen ekonomi khususnya perdagangan dan investasi," tuturnya.
Indonesia sebagai ekonomi terbesar di kawasan ASEAN masih memerlukan berbagai upaya untuk memperbaiki tata kelola, meningkatkan kualitas sumber daya, serta membangun citra global sebagai negara yang perlu diperhitungkan. Di sisi lain, Singapura merupakan contoh negara maju di ASEAN, dengan tata kelola yang baik, jaringan bisnis yang luas, dan ketahanan ekonomi yang kuat dalam menghadapi risiko global. "Seharusnya kedua negara ini bisa saling mengisi dengan kelebihan masing-masing," tegasnya.
Tiga Isu Utama yang Memicu Ketegangan
Hubungan antara Singapura dan Indonesia mulai memanas pada bulan Oktober 2026, dengan beberapa isu yang muncul dan menimbulkan gesekan. Isu-isu tersebut mencakup kabut asap lintas batas, tuduhan manipulasi pasar saham, dan keputusan mendadak Indonesia untuk memangkas ekspor gas alam.
Isu pertama adalah kabut asap lintas batas yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan di Indonesia, terutama di Sumatra dan Kalimantan. Asap yang terbawa angin menyebabkan penurunan kualitas udara di Singapura dan Malaysia. Bagi Singapura, masalah ini tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat dan aktivitas ekonomi. Sementara itu, bagi Indonesia, kebakaran hutan merupakan masalah kompleks yang terkait dengan pengelolaan lahan dan penegakan hukum.
Gesekan muncul karena Singapura ingin agar perusahaan yang bertanggung jawab atas kebakaran, termasuk yang terdaftar di Singapura, dapat dimintai pertanggungjawaban. Di sisi lain, Indonesia merasa sensitif terhadap kritik luar negeri yang dapat menempatkan negara sebagai pihak yang sepenuhnya bertanggung jawab.
Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden Prabowo Subianto mengkritik negara-negara yang dianggap merendahkan Indonesia. Namun, pada 27 Oktober, kedua negara menunjukkan bahwa masih ada ruang untuk kerja sama dengan mempertimbangkan pembentukan satuan tugas bersama untuk berbagi informasi dan menindak perusahaan yang terbukti terlibat dalam kebakaran.
Persoalan kedua yang muncul adalah terkait gejolak pasar modal Indonesia pada pertengahan Oktober 2026. Pada 16 Oktober, Indeks Harga Saham Gabungan mengalami penurunan sekitar 11,57 persen setelah pengumuman dari Morgan Stanley Capital International mengenai rencana penurunan status pasar saham Indonesia dari kategori emerging market menjadi standalone market.