Fakta Pendidikan

Kotoran Burung Laut: Sumber Kemakmuran Kerajaan Chincha di Peru

Kotoran burung laut, meskipun dianggap menjijikkan, ternyata menjadi sumber daya penting yang menggerakkan perekonomian Kerajaan Chincha di Peru. Pemanfaatan guano sebagai pupuk tanaman jagung telah m...

P
Panca Akbar Saputra
30 July 2026
6 pembaca
Foto: Guano, kotoran burung di tengah lautan. (John Harald Sobi/Creative Commons/Wikimedia Commons)
Foto: Guano, kotoran burung di tengah lautan. (John Harald Sobi/Creative Commons/Wikimedia Commons)

Jakarta - Kotoran burung laut mungkin terlihat menjijikkan bagi banyak orang, tetapi bagi mereka yang memahami manfaatnya, kotoran tersebut dapat menjadi penggerak ekonomi suatu kerajaan. Hal ini terbukti dari Kerajaan Chincha yang terletak di Pegunungan Andes, Peru. Sebelum bergabung dengan Kekaisaran Inca pada abad ke-15, kerajaan pesisir ini telah mencapai kemakmuran dan pengaruh yang signifikan, seperti yang dilaporkan oleh University of Sydney.

Pentingnya Guano dalam Pertanian

Dr. Jacob Bongers, seorang arkeolog digital dari University of Sydney, menjelaskan bahwa Kerajaan Chincha memanfaatkan kotoran burung laut yang kaya akan nutrisi, atau guano, sebagai pupuk untuk tanaman jagung. "Guano meningkatkan produksi jagung secara drastis, dan surplus pertanian ini sangat membantu dalam mendorong perekonomian Kerajaan Chincha, menggerakkan perdagangan, kekayaan, pertumbuhan penduduk, dan pengaruh regional mereka, serta membentuk aliansi strategis mereka dengan Kekaisaran Inca," ungkap Bongers.

Dia menambahkan, "Kotoran burung laut mungkin tampak sepele, namun studi kami menunjukkan bahwa sumber daya yang ampuh ini dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap perubahan sosial-politik dan ekonomi di Pegunungan Andes Peru."

Pengumpulan Guano dari Kepulauan Chincha

Sebagai peneliti tamu di Australian Museum Research Institute, Bongers menjelaskan bahwa guano tersebut kemungkinan besar dikumpulkan dari Kepulauan Chincha yang terkenal dengan deposit guano yang melimpah dan berkualitas tinggi. "Tulisan-tulisan era kolonial yang kami pelajari melaporkan bahwa masyarakat di sepanjang pesisir Peru dan Chili utara berlayar ke beberapa pulau terdekat menggunakan rakit untuk mengumpulkan kotoran burung laut untuk pemupukan," jelasnya.

Para peneliti sebelumnya juga telah menganalisis tanda-tanda biokimia dalam 35 sampel jagung dari makam di Lembah Chincha, yang merupakan kawasan Kerajaan Chincha dengan populasi sekitar 100.000 penduduk. Hasil analisis kimia menunjukkan bahwa jagung-jagung tersebut memiliki kadar nitrogen yang sangat tinggi, jauh melebihi kondisi tanah alami di daerah tersebut. Temuan ini mengindikasikan bahwa tanaman tersebut dipupuk dengan guano burung laut yang kaya nitrogen, karena burung laut setempat mengonsumsi hewan laut.

Dr. Emily Milton, peneliti pascadoktoral di Smithsonian Institution di Washington, DC, menambahkan bahwa mereka juga memeriksa catatan sejarah untuk memperkuat hasil penelitian. "Catatan sejarah yang mendokumentasikan bagaimana kotoran burung diaplikasikan ke ladang jagung membantu kami menafsirkan data kimia dan memahami pentingnya praktik ini di wilayah tersebut," ujarnya.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, masyarakat Chincha telah mengelola tanah pertanian dengan sangat baik selama lebih dari 800 tahun di Peru.

Representasi Budaya dalam Seni

Studi arkeologis juga menunjukkan bahwa penduduk kerajaan mengabadikan burung laut, ikan, dan jagung dalam berbagai bentuk seni seperti lukisan, ukiran dinding, tembikar, kain, dan keramik. Praktik ini mencerminkan pentingnya burung laut dan jagung dalam budaya masyarakat kuno tersebut. "Secara keseluruhan, bukti kimia dan material yang kami teliti mengkonfirmasi penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa guano sengaja dikumpulkan dan digunakan sebagai pupuk," kata Bongers.

Hasil penelitian ini dipublikasikan oleh Bongers dan rekan-rekannya dalam jurnal PLOS One dengan judul "Seabirds shaped the expansion of pre-Inca society in Peru," pada 11 Februari 2026.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait