Fakta Pendidikan

Dampak Pengeringan Lahan Gambut Terhadap Kebakaran Hutan

Lahan gambut yang dikeringkan berpotensi memperburuk kebakaran hutan, terutama saat musim kemarau. Proses ini menyebabkan akumulasi bahan bakar yang sulit dipadamkan.

S
Stevani Nila Wardana
13 September 2026
2 pembaca
Karhutla di Kalteng dan Ancaman Kesehatan Warga. Foto: 20Detik
Karhutla di Kalteng dan Ancaman Kesehatan Warga. Foto: 20Detik

Jakarta - Gambut adalah ekosistem lahan basah yang terbentuk dari akumulasi bahan organik yang belum sepenuhnya terurai selama ribuan tahun. Secara alami, lahan gambut memiliki kemampuan untuk menyerap dan menyimpan air dalam jumlah besar, sehingga membuatnya sulit terbakar. Namun, saat musim kemarau tiba, lahan gambut yang telah dikeringkan, seperti untuk pembangunan kanal, berisiko mengalami kebakaran yang lebih kompleks. Hal ini disebabkan oleh proses penyalaan bawah permukaan yang sulit terdeteksi dan dipadamkan.

"Jika wilayah gambut masih berada dalam kondisi alaminya dan selalu tergenang air, hal itu tidak akan menjadi masalah. Namun, ketika airnya dikeluarkan, bahan organik yang mengering tersebut berubah menjadi akumulasi bahan bakar di hamparan yang sangat luas," ujar Dr. Elham Sumarga, seorang pakar Ekologi dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB.

Konsekuensi Degradasi Lahan Gambut

Lahan gambut yang dikeringkan untuk pembangunan kanal demi mendukung aktivitas budidaya berpotensi mengalami degradasi atau penurunan kualitas. Hal ini dapat menyebabkan hilangnya kemampuan lahan gambut untuk menyerap air, sehingga mengakibatkan genangan air atau bahkan banjir permanen. Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah perlu mempertimbangkan konsekuensi dari berbagai pilihan pengelolaan lahan gambut dengan menggunakan pemodelan hidrologis dan spasial.

"Di sinilah fungsi utama pemodelan. Kita dapat menginvestigasi berbagai skenario untuk mengambil keputusan yang bersifat antisipatif dan preventif agar kebakaran yang lebih hebat pada masa depan dapat dicegah," tambah Dr. Elham.

Restorasi dan Pengelolaan Lahan Gambut

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi saat ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lahan gambut yang kering. Oleh karena itu, restorasi ekosistem gambut harus dilakukan, salah satunya melalui proses membasahi kembali lahan gambut yang kering, yang dikenal dengan istilah rewetting. Rewetting dapat dilakukan dengan membangun sekat kanal untuk menjaga ketersediaan air dan kelembapan lahan.

Selain itu, pengelolaan lahan gambut yang dikenal sebagai paludikultur juga dianjurkan agar lahan tidak perlu dikeringkan untuk kepentingan budidaya. Komoditas alternatif yang dapat ditanam di lahan gambut antara lain jelutung, sagu, dan purun, sehingga masyarakat tetap dapat memanfaatkan lahan tanpa harus mengeringkannya.

Salah satu dampak signifikan dari kebakaran adalah asap yang dihasilkan, yang dapat mengurangi jarak pandang secara drastis. Asap tersebut mengandung partikel halus PM2.5 yang berisiko tinggi bagi kesehatan, terutama pada sistem pernapasan. Selain itu, kabut asap juga mengganggu aktivitas sehari-hari akibat kualitas udara yang memburuk.

Dalam konteks yang lebih luas, kebakaran lahan dalam skala besar berkontribusi pada peningkatan emisi gas karbon yang mempercepat pemanasan global dan perubahan iklim. Banyak lahan yang terbakar merupakan hutan yang menjadi habitat bagi berbagai satwa liar. Di Kalimantan, misalnya, orangutan terpaksa berpindah karena habitatnya terbakar habis.

"Orang utan di Kalimantan banyak yang terdesak dan terjebak akibat kebakaran. Bahkan, terdapat satwa liar yang tidak mampu menyelamatkan diri dari kebakaran yang hebat," jelas Dr. Elham.

Dr. Elham juga menekankan pentingnya kolaborasi dan evaluasi antara akademisi, pemerintah, lembaga, pelaku usaha, dan masyarakat. "Semua pihak harus bergerak bersama secara sinergis. Kebakaran hutan adalah masalah yang tidak bisa dilokalisasi, sehingga penanganannya membutuhkan kesadaran bersama, perbaikan regulasi, serta ketegasan penegakan hukum demi menjaga keberlanjutan ekosistem," pungkasnya.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait