Merasa mulas, mual, atau ingin muntah setelah mengonsumsi makanan dalam jumlah sedikit tentu menjadi hal yang membingungkan. Terlebih, jika sebelumnya tidak ada indikasi bahwa makanan tersebut bermasalah. Namun, porsi makanan bukanlah satu-satunya faktor yang dapat menyebabkan keracunan makanan. Makanan yang terkontaminasi dapat mengandung bakteri, virus, atau racun yang cukup untuk memicu reaksi tubuh, sehingga meskipun hanya beberapa suap, tetap bisa menimbulkan masalah jika makanan tersebut sudah tercemar.
Penyebab Keracunan Makanan
Beberapa kasus keracunan makanan disebabkan oleh makanan yang sudah mengandung racun yang dihasilkan oleh bakteri. Salah satu contohnya adalah Staphylococcus aureus, bakteri yang dapat hidup di kulit dan hidung manusia, dan dapat berpindah ke makanan melalui tangan yang tidak bersih. Bakteri ini mampu memproduksi racun saat berkembang biak di makanan, terutama pada makanan yang telah diolah dan tidak dimasak kembali, seperti sandwich, daging iris, kue, atau puding.
Keracunan akibat Staphylococcus aureus dapat menimbulkan gejala seperti mual, muntah, kram perut, dan diare dalam waktu sekitar 30 menit hingga 8 jam setelah makanan dikonsumsi. Yang perlu diperhatikan, racun yang terbentuk di dalam makanan tidak selalu akan hancur ketika makanan tersebut dipanaskan, meskipun bakteri itu sendiri dapat mati. Oleh karena itu, makanan yang tampak dan terasa normal tetap dapat menyebabkan sakit jika sebelumnya sudah tercemar dan racunnya telah terbentuk.
Jenis Bakteri dan Virus Penyebab Keracunan
Selain bakteri yang menghasilkan racun, terdapat juga kuman yang dapat masuk bersama makanan dan kemudian berkembang biak atau menginfeksi tubuh. Salmonella, misalnya, adalah bakteri yang dapat menyebabkan infeksi dan sering ditemukan pada ayam atau daging yang kurang matang, telur, serta beberapa jenis buah dan sayuran yang terkontaminasi. Bakteri Escherichia coli atau E. coli juga dapat menyebabkan penyakit dan sering dikaitkan dengan daging sapi giling yang kurang matang, susu mentah, sayuran mentah, serta kecambah.
Norovirus adalah virus lain yang dapat menyerang saluran pencernaan, menyebabkan muntah dan diare. Virus ini dapat menyebar melalui makanan siap saji, buah dan sayuran segar, serta kerang mentah seperti tiram. Berbeda dengan keracunan yang disebabkan oleh racun Staphylococcus aureus, gejala infeksi Salmonella dan norovirus biasanya memerlukan waktu lebih lama untuk muncul.
Makanan yang hanya sedikit terkontaminasi dapat menjadi lebih berisiko jika dibiarkan pada suhu yang mendukung pertumbuhan bakteri. Bakteri penyebab penyakit dapat berkembang biak dengan cepat pada makanan yang berada dalam rentang suhu sekitar 4 hingga 60 derajat Celsius. Contohnya, nasi, daging, lauk berkuah, atau makanan siap saji yang dibiarkan selama berjam-jam pada suhu ruang dapat menjadi tempat berkembangnya bakteri.
Semakin lama makanan berada dalam kondisi tersebut, jumlah bakteri dapat meningkat, dan pada beberapa jenis bakteri, racun juga dapat terbentuk. Makanan seperti nasi, lauk berkuah, daging, telur, atau produk berbasis susu lebih rentan rusak jika dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang. Oleh karena itu, makanan sisa atau makanan siap saji sebaiknya segera disimpan dalam lemari es, dan makanan yang mudah rusak tidak boleh dibiarkan lebih dari dua jam pada suhu ruang.
Makan dalam porsi sedikit tidak menjamin seseorang terhindar dari keracunan makanan. Jumlah makanan yang dikonsumsi bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi munculnya gejala. Jika mengalami keracunan disertai muntah terus-menerus, diare lebih dari tiga hari, adanya darah dalam tinja, demam tinggi, atau tanda-tanda dehidrasi, sebaiknya segera mencari bantuan medis.