Fakta Kesehatan

Mengenal Kutu di Bulu Mata dan Penyebabnya

Kutu yang dapat ditemukan di bulu mata umumnya adalah kutu kemaluan, bukan tungau Demodex. Penularan kutu ini sering terjadi melalui kontak intim atau barang yang terkontaminasi.

F
Fidzu Ardaf
27 October 2026
8 pembaca
ilustrasi bulu mata (pexels.com/ Mypointofview)
ilustrasi bulu mata (pexels.com/ Mypointofview)

Kutu yang biasanya ditemukan pada bulu mata adalah kutu kemaluan (Phthirus pubis), bukan tungau Demodex. Penularan kutu ini biasanya terjadi melalui kontak intim, tetapi bisa juga berpindah melalui tangan atau barang yang baru digunakan oleh orang yang terinfeksi.

Penting untuk memeriksa keberadaan kutu di bulu mata anak oleh tenaga kesehatan. Meskipun temuan ini tidak selalu menunjukkan adanya kekerasan seksual, dokter tetap perlu menilai kemungkinan paparan dan keamanan anak. Rasa gatal di area kelopak mata sering kali dianggap sebagai tanda iritasi atau peradangan, namun bisa juga disebabkan oleh kutu dan telurnya yang menempel di pangkal bulu mata. Kondisi ini dikenal sebagai phthiriasis palpebrarum dan umumnya disebabkan oleh kutu kemaluan.

Penyebab Kutu di Bulu Mata

Kutu kemaluan lebih dikenal hidup di rambut kemaluan, namun mereka juga dapat ditemukan di alis, janggut, ketiak, dada, dan bulu mata. Berikut adalah beberapa penyebab mengapa bulu mata bisa dihuni kutu:

  1. Kontak intim dengan individu yang terinfeksi.
  2. Perpindahan kutu melalui tangan dari bagian tubuh lain ke mata.
  3. Kontak dekat atau penggunaan barang yang baru dipakai oleh orang yang terinfeksi.

Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan

Kutu kemaluan biasanya berpindah melalui kontak dekat antar manusia, terutama dalam konteks seksual. Ketika rambut tubuh bersentuhan, kutu dapat berpindah ke individu lain dan menetap di rambut kasar di bagian tubuh lainnya, termasuk bulu mata. Seseorang yang memiliki kutu di rambut kemaluan atau area tubuh lainnya dapat memindahkannya ke area mata melalui tangan, misalnya setelah menyentuh area yang terinfeksi dan kemudian mengucek mata. Sebuah laporan kasus medis pada tahun 2025 mencatat bahwa tangan yang terkontaminasi merupakan salah satu jalur kutu mencapai bulu mata.

Penyebaran kutu melalui pakaian, seprai, atau handuk juga mungkin terjadi, tetapi lebih jarang dibandingkan dengan kontak langsung. Kutu kemaluan hanya dapat hidup pada manusia dan tidak ditularkan oleh hewan peliharaan, sehingga keberadaan kutu di bulu mata tidak mencerminkan kurangnya kebersihan.

Pada anak-anak, kutu dapat berpindah melalui kontak dekat dengan orang dewasa yang terinfeksi atau melalui barang yang digunakan bersama. Namun, penemuan kutu kemaluan di bulu mata anak juga bisa menjadi indikasi adanya kemungkinan paparan seksual atau kekerasan, sehingga perlu dilakukan evaluasi oleh tenaga kesehatan. Studi retrospektif yang dilakukan di Prancis pada tahun 2026 mencatat 20 kasus pada anak, di mana sumber penularan berhasil diidentifikasi pada sekitar setengah dari kasus tersebut. Meskipun peneliti tidak menemukan bukti kekerasan seksual dalam kelompok tersebut, jalur penularan tidak diperiksa secara sistematis di semua kasus, sehingga hasil ini tidak dapat digunakan untuk memperkirakan frekuensi penularan tertentu.

Tidak semua keluhan gatal atau adanya kotoran di pangkal bulu mata berarti ada kutu. Tungau Demodex, misalnya, adalah organisme kecil yang dapat hidup di folikel rambut manusia dan berbeda dari kutu kemaluan. Dokter mata dapat membedakan keduanya melalui pemeriksaan, termasuk menggunakan mikroskop khusus. Jika kelopak mata terasa gatal, merah, berair, atau terdapat benda kecil yang menempel di pangkal bulu mata, sebaiknya segera diperiksakan. Gejala tersebut dapat menyerupai radang kelopak mata, sehingga pemeriksaan diperlukan untuk memastikan penyebabnya. Hindari penggunaan sampo atau obat kutu biasa di dekat mata, karena penanganan untuk bulu mata memerlukan cara yang aman dan arahan dari tenaga kesehatan.

Artikel Terkait