Museum Jenderal Besar A.H. Nasution, yang terletak di Menteng, merupakan bekas rumah tinggal Nasution yang telah bertransformasi menjadi museum sejak diresmikan pada 3 Desember 2008. Museum ini didirikan sebagai bentuk penghormatan atas kontribusi Nasution terhadap bangsa. Terdapat 2.185 koleksi di dalam museum, termasuk furnitur asli, ruang kerja, pakaian dinas, senjata, penghargaan, serta diorama yang menggambarkan peristiwa 1 Oktober 1965, yang mengakibatkan tewasnya putrinya, Ade Irma Suryani. Pengunjung dapat memasuki museum secara gratis dengan mengisi buku tamu. Museum ini berlokasi di Jalan Teuku Umar No. 40, Menteng, dan buka setiap hari Selasa hingga Minggu dari pukul 09.00 hingga 16.00 WIB.
Sejarah dan Latar Belakang Museum
Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, dikenal sebagai salah satu area bersejarah di Ibu Kota, di mana banyak peristiwa penting terjadi. Salah satunya adalah gerakan 30 September 1965, atau G30S/PKI, yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung, komandan Batalyon Cakrabirawa, dengan dukungan tokoh-tokoh dari Partai Komunis Indonesia (PKI) seperti D.N. Aidit. Tujuan dari gerakan ini adalah untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Sukarno dan mengubah ideologi negara. Peristiwa tersebut menjadi awal runtuhnya PKI dan transisi kekuasaan menuju Orde Baru, yang menewaskan enam jenderal serta satu perwira pertama TNI Angkatan Darat, yang jenazahnya kemudian dimasukkan ke dalam sumur tua di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Sejarah tersebut kini diabadikan dalam berbagai museum di Menteng, termasuk Museum Jenderal Besar A.H. Nasution, yang menyimpan jejak perjuangan DR. A.H. Nasution.
Pengalaman Mengunjungi Museum
Museum ini dulunya adalah tempat tinggal A.H. Nasution beserta keluarganya ketika ia menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) dari tahun 1949 hingga wafat pada 6 September 2000. Keluarganya meninggalkan rumah ini pada 29 Juli 2008. Rumah ini telah menjadi saksi banyak peristiwa bersejarah, termasuk yang hampir merenggut nyawa A.H. Nasution. Sebagai bentuk penghormatan, rumah ini diubah menjadi museum yang diresmikan oleh Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono, pada 3 Desember 2008. Menurut informasi dari laman Dinas Sejarah TNI AD, museum ini kini memiliki 2.185 koleksi yang tersebar di berbagai ruangan, serta diorama yang menggambarkan peristiwa berdarah pada 30 September 1965.
Setibanya di Museum Jenderal Besar A.H. Nasution, pengunjung akan disambut oleh ruangan berwarna putih yang dipenuhi furnitur kayu, menciptakan suasana tenang dan klasik. Lantai rumah ini sebagian besar masih menggunakan ubin dengan motif klasik berwarna coklat dan kekuningan. Desain dan furnitur di dalam rumah ini tidak mengalami perubahan, kecuali penataan yang disesuaikan untuk menggambarkan ruang kerja A.H. Nasution. Museum ini memiliki satu lantai dengan gaya arsitektur kolonial yang dipadukan dengan elemen Eropa.
Salah satu daya tarik utama museum ini adalah diorama yang menggambarkan peristiwa 1 Oktober 1965 secara realistis. Diorama ini seolah membawa pengunjung kembali ke masa lalu, menggambarkan ketegangan dan ketakutan yang dirasakan pada malam tersebut. Pada saat itu, Pasukan Tjakrabirawa G30S/PKI berusaha menculik dan membunuh Jenderal A.H. Nasution. Saat pasukan bersenjata memasuki rumah, Nasution dan istrinya berada di kamar utama. Istrinya berusaha menutup dan mengunci pintu kamar, namun pintu tersebut ditembaki oleh pasukan Tjakrabirawa. Dalam situasi genting tersebut, istri Nasution meminta suaminya untuk melarikan diri dengan melompati tembok menuju area Kedutaan Irak. Namun, dalam upaya pasukan bersenjata menerobos masuk, putrinya, Ade Irma Suryani Nasution, terkena tembakan saat membuka pintu, tidak mengetahui situasi di luar.
Di ruangan pertama museum, pengunjung akan menemukan patung Jenderal A.H. Nasution yang dikelilingi oleh penghargaan, miniatur senjata, dan foto-foto yang menggambarkan perjalanan hidupnya. Selain itu, pengunjung juga dapat melihat gambaran ruang kerja A.H. Nasution yang dipenuhi buku-buku, baju dinas, baju batik kesayangannya, koleksi senjata, serta berbagai aksesori seperti pangkat dan tongkat komando, serta kamar tidur, ruang makan, dan kursi tamu favoritnya.
Bagi yang ingin mengunjungi Museum Jenderal Besar A.H. Nasution, tidak ada biaya masuk yang dikenakan. Pengunjung hanya perlu mengisi buku tamu dan dapat bebas menjelajahi museum. Museum ini buka dari hari Selasa hingga Minggu, mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. Lokasi museum berada di Jalan Teuku Umar Nomor 40, Kelurahan Gondangdia, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat. Museum Jenderal Besar A.H. Nasution sangat direkomendasikan untuk dikunjungi, karena pengunjung dapat merasakan kembali peristiwa bersejarah yang menegangkan pada malam 1 Oktober 1965.