Fakta Ekonomi

Mirae Asset Mengidentifikasi Faktor Penentu Pasar Saham Indonesia di Semester II 2026

PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memprediksi bahwa pergerakan pasar saham Indonesia pada semester kedua tahun 2026 akan dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi global, valuasi saham, dan status Indone...

U
Ulam Kirana
21 July 2026
47 pembaca
Foto: Republika/Thoudy Badai
Foto: Republika/Thoudy Badai

PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia (MASI) mengungkapkan bahwa arah pergerakan pasar saham Indonesia pada semester II tahun 2026 akan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi makroekonomi global, menariknya valuasi saham, serta status Indonesia sebagai Emerging Market dalam indeks MSCI.

Minat Investor Asing Terhadap Saham Perbankan

Rully Arya Wisnubroto, Kepala Riset dan Ekonom Utama MASI, menyatakan bahwa pulihnya minat investor asing terhadap saham-saham perbankan berkapitalisasi besar menjadi sinyal positif bagi pasar saham Indonesia. Hal ini disampaikan dalam acara Mirae Asset Media Day yang berlangsung di Jakarta pada Selasa, 21 Juli 2026.

Setelah mengalami fase technical rebound, Rully menambahkan bahwa perhatian investor kini akan lebih difokuskan pada kualitas fundamental ekonomi, arah kebijakan moneter global, dan kemampuan emiten dalam mempertahankan pertumbuhan kinerja. Ia menekankan, "Perhatian investor kini tidak lagi hanya tertuju pada momentum rebound, tetapi juga pada kekuatan fundamental ekonomi dan prospek kinerja emiten di tengah tantangan makro yang masih berlangsung."

Tantangan Kebijakan Moneter Global

Rully juga mengungkapkan bahwa tantangan utama yang dihadapi pasar saham Indonesia pada semester II 2026 berasal dari kebijakan moneter global. Mirae memprediksi bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada bulan September dan Desember 2026. Dengan demikian, kebijakan suku bunga tinggi diperkirakan akan terus berlanjut.

"Kondisi higher for longer membuat likuiditas dolar AS semakin ketat sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Di tengah perlambatan ekonomi dan potensi twin deficit, ruang Bank Indonesia (BI) untuk kembali menaikkan suku bunga juga semakin terbatas," ujar Rully.

Di sisi lain, Wilbert Arifin, Analis Riset MASI, menjelaskan bahwa keputusan MSCI untuk mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market menjadi katalis positif yang dapat mengurangi ketidakpastian di pasar. Meskipun demikian, Indonesia masih dalam masa pemantauan hingga November 2026. "Status Indonesia sebagai Emerging Market tetap terjaga, meski bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets turun menjadi sekitar 0,4 persen pada Juni 2026 dari 1,2 persen pada akhir 2025 seiring berkurangnya kepemilikan investor asing dan arus keluar dana dari pasar saham Indonesia," ungkap Wilbert.

Ia menambahkan bahwa sebelum keputusan tersebut diumumkan, pasar sempat mengantisipasi risiko reklasifikasi Indonesia menjadi Frontier Market, yang dapat memicu arus keluar dana bersih hingga Rp 80 triliun.

Artikel Terkait