Fakta Kesehatan

Neotam: Pemanis Super Manis yang Perlu Diperhatikan Keamanannya

Neotam, pemanis yang 7.000 hingga 13.000 kali lebih manis dari gula, digunakan dalam jumlah kecil dan stabil pada suhu tinggi, tetapi keamanannya masih menjadi pertanyaan. Penelitian menunjukkan bahwa...

F
Fidzu Ardaf
29 October 2026
3 pembaca
ilustrasi gula (magnific.com/v.ivash)
ilustrasi gula (magnific.com/v.ivash)

Neotam, yang memiliki tingkat kemanisan 7.000 hingga 13.000 kali lipat dari gula biasa, digunakan dalam jumlah kecil dalam produk pangan dan stabil pada suhu tinggi, sehingga cocok untuk makanan yang dipanggang. Meskipun neotam dinyatakan aman jika digunakan sesuai dengan batas yang ditetapkan oleh regulator, masih ada pertanyaan mengenai dampaknya terhadap kesehatan.

Keamanan dan Penggunaan Neotam

Neotam merupakan pemanis buatan yang juga berfungsi sebagai penguat rasa. Pemanis ini berkerabat dengan aspartam dan melepaskan fenilalanin dalam jumlah kecil, sehingga tidak memerlukan peringatan khusus seperti pada produk yang mengandung aspartam. Namun, bagi individu dengan fenilketonuria, tetap disarankan untuk mengikuti arahan dari dokter atau ahli gizi.

Pada tahun 2025, Panel Otoritas Keamanan Makanan Eropa (EFSA) melakukan evaluasi ulang terhadap neotam dan menyimpulkan bahwa tidak ada masalah keamanan terkait penggunaannya dalam kadar yang diizinkan di Uni Eropa. EFSA juga menetapkan batas asupan harian yang dianggap aman (acceptable daily intake/ADI) sebesar 10 mg per kilogram berat badan per hari, meningkat dari angka sebelumnya yang hanya 2 mg/kg. Namun, batas aman ini dapat bervariasi antar negara atau lembaga. Misalnya, JECFA menetapkan batas 0–2 mg/kg berat badan per hari, sedangkan FDA di AS menggunakan 0,3 mg/kg per hari.

Penelitian dan Temuan Terkait Neotam

Di Indonesia, BPOM mengatur kadar neotam dalam berbagai jenis pangan. Misalnya, untuk minuman berperisa berkarbonasi, batasnya adalah 17 mg/kg, sedangkan untuk versi tidak berkarbonasi adalah 16 mg/kg, dan 8 mg/kg untuk kopi atau teh yang dihitung terhadap produk siap konsumsi. Neotam yang memiliki rasa manis yang sangat kuat dapat digunakan dalam jumlah kecil untuk mengurangi kadar gula, membantu produsen menciptakan produk dengan kadar gula dan energi yang lebih rendah.

Namun, manfaat neotam sangat bergantung pada produk dan bahan lainnya. Dalam sebuah penelitian yang melibatkan 53 orang dewasa dengan berat badan berlebih, biskuit yang menggunakan neotam menunjukkan respons insulin setelah makan yang lebih rendah dibandingkan dengan biskuit yang mengandung gula. Meski demikian, penelitian ini hanya berlangsung selama dua minggu dan tidak menemukan perbedaan signifikan pada rasa lapar atau kadar glukosa setelah makan.

WHO juga tidak merekomendasikan pemanis non-gula, termasuk neotam, sebagai strategi jangka panjang untuk mengendalikan berat badan atau mencegah penyakit tidak menular. Sebuah studi laboratorium pada tahun 2024 menunjukkan bahwa neotam dapat memengaruhi sel usus yang ditumbuhkan di laboratorium dan perilaku bakteri tertentu, namun hasil ini belum dapat disamakan dengan kondisi manusia yang mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung neotam.

Jika ingin mengetahui apakah suatu produk mengandung neotam, penting untuk memeriksa daftar komposisi pada kemasannya, di mana neotam biasanya dicantumkan sebagai neotam atau INS 961. Meskipun neotam dinilai aman jika digunakan sesuai batas yang ditetapkan, penelitian mengenai dampaknya terhadap kesehatan usus masih terbatas, dan temuan dari studi-studi ini belum cukup untuk membuktikan bahwa neotam dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia.

Artikel Terkait