Pemanis yang dikenal dengan nama stevia umumnya menggunakan glikosida steviol, bukan berasal dari daun utuh, dan sering dicampur dengan bahan lain. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengatur batas penggunaan stevia sesuai dengan jenis pangan. Sementara itu, JECFA menetapkan batas aman untuk glikosida steviol hingga 4 mg per kilogram berat badan per hari, yang dihitung sebagai ekuivalen steviol. Keamanan stevia juga tergantung pada kemurnian dan jumlah yang dikonsumsi.
Beberapa orang beralih dari gula ke stevia untuk menikmati rasa manis tanpa menambah kalori yang signifikan. Pemanis ini sering ditambahkan ke dalam kopi atau teh sebagai pengganti gula. Namun, muncul pertanyaan mengenai keamanan pemanis ini dan apakah ada efek samping yang mungkin ditimbulkan.
Pentingnya Memahami Kandungan Stevia
Stevia berasal dari tanaman, tetapi pemanis yang ditambahkan ke makanan atau minuman biasanya tidak berupa daun stevia utuh. Sebagian besar produk menggunakan glikosida steviol, senyawa manis yang diekstrak dari tanaman stevia. Dalam produk pemanis kemasan, senyawa ini sering dicampur dengan bahan lain untuk mempermudah penggunaan dan takaran.
Di Indonesia, BPOM mengizinkan penggunaan glikosida steviol sebagai bahan tambahan pangan dengan batas yang bervariasi untuk setiap jenis makanan dan minuman. Oleh karena itu, kandungan stevia dalam satu produk belum tentu sama dengan produk lainnya. Untuk mengetahui kandungan suatu produk, penting untuk memeriksa daftar komposisinya pada kemasan.
JECFA, yang merupakan komite ahli gabungan FAO dan WHO, telah menetapkan batas asupan harian yang dianggap aman (acceptable daily intake/ADI) untuk glikosida steviol sebesar 0-4 mg per kilogram berat badan per hari, yang dihitung sebagai ekuivalen steviol. Sebagai contoh, bagi seseorang dengan berat badan 60 kg, batas atasnya setara dengan 240 mg ekuivalen steviol per hari. Namun, penting untuk dicatat bahwa ADI bukanlah jumlah yang harus dikonsumsi setiap hari, melainkan perkiraan jumlah yang dapat dikonsumsi dalam jangka panjang tanpa risiko kesehatan yang signifikan.
Efek Samping dan Pertimbangan Lain
Pada penilaian tahun 2024, Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA) menyatakan bahwa bukti yang tersedia masih belum cukup untuk meningkatkan batas ADI glikosida steviol yang berlaku saat ini. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) juga menilai keamanan glikosida steviol dengan kemurnian tinggi, yaitu minimal 95 persen. Penilaian ini berbeda dengan daun stevia utuh atau ekstrak stevia yang belum dimurnikan, sehingga hasil penilaian tersebut tidak otomatis berlaku untuk semua produk yang mencantumkan kata “stevia” pada kemasannya.
Label "alami" pada produk tidak selalu menjamin keamanan. Jenis bahan yang digunakan, kandungan produk, dan jumlah yang dikonsumsi tetap perlu diperhatikan. Beberapa produk pemanis meja mencampurkan glikosida steviol dengan gula alkohol seperti eritritol, sorbitol, atau maltitol. Pada sebagian orang, gula alkohol dapat menyebabkan gas, kembung, atau diare, terutama jika dikonsumsi dalam jumlah besar.
Jika mengalami keluhan pencernaan setelah menggunakan produk stevia, penting untuk memeriksa seluruh daftar bahan. Gejala tersebut mungkin tidak hanya disebabkan oleh glikosida steviol. Sebuah metaanalisis pada tahun 2024 yang melibatkan 12 uji klinis dengan 871 orang dewasa menunjukkan bahwa stevia mungkin membantu menurunkan gula darah puasa dalam jumlah kecil, tetapi tidak ditemukan perbaikan yang signifikan pada HbA1c, indikator rata-rata kadar gula darah dalam beberapa bulan terakhir. Kualitas bukti yang ada juga dinilai rendah, sehingga stevia belum dapat dianggap sebagai terapi untuk mengendalikan diabetes.
WHO juga menyarankan agar pemanis non-gula, termasuk stevia, tidak dijadikan cara utama untuk menurunkan berat badan atau mencegah penyakit tidak menular dalam jangka panjang. Meskipun demikian, ini tidak berarti stevia berbahaya. Panduan tersebut tidak secara khusus ditujukan untuk penderita diabetes.
Secara umum, glikosida steviol yang memenuhi standar keamanan dan dikonsumsi dalam batas yang dianjurkan dianggap aman digunakan sebagai pemanis. Namun, beberapa individu mungkin tetap mengalami keluhan tertentu, terutama jika produk tersebut mengandung bahan tambahan yang tidak cocok atau jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan. Oleh karena itu, membaca daftar komposisi dan petunjuk penggunaan pada kemasan sangat penting untuk mengetahui kandungan produk yang dikonsumsi.