Menko Kumham Imipas, Yusril Ihza Mahendra, menyatakan bahwa kondisi lembaga pemasyarakatan (lapas) dan rumah tahanan (rutan) di Indonesia tidak memenuhi standar kemanusiaan. Permasalahan utama yang dihadapi adalah kelebihan kapasitas, yang berdampak pada kualitas hidup narapidana, termasuk akses terhadap air bersih dan makanan bergizi.
Kepadatan Sel yang Mengkhawatirkan
Yusril menggambarkan situasi di lapas, di mana satu sel dapat dihuni oleh 25 orang dengan hanya satu toilet. Hal ini menyebabkan antrean panjang untuk mendapatkan akses air, mandi, dan makanan. "Bisa bayangkan orang tidur berdesak-desakan, 25 orang satu sel, WC-nya cuma satu," ungkapnya setelah Rapat Koordinasi Tingkat Menteri yang membahas perbaikan sistem pemasyarakatan serta tindak lanjut dari temuan Ombudsman RI di Jakarta pada Jumat (9/10/2026).
Dengan kondisi sempit dan fasilitas sanitasi yang terbatas, aktivitas sehari-hari seperti mandi dan menggunakan toilet menjadi sangat sulit. "Bayangkan seperti apa orang itu ketika pagi hari bangun tidur ingin ke kamar kecil, ingin mandi, antre airnya tidak bersih, menunggu antre makanan, dan lain-lain," tambahnya.
Laporan Mengenai Pelayanan Kesehatan dan Kualitas Makanan
Selain masalah kepadatan, pemerintah juga menerima keluhan terkait pelayanan kesehatan, kualitas makanan, dan fasilitas air di lapas. Yusril meminta Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan untuk menampung serta menindaklanjuti masukan tersebut. "Kemudian juga jatah makanan yang jauh daripada memenuhi standar gizi, kemudian juga fasilitas air yang tidak sesuai, banyak yang airnya itu kotor menyebabkan sakit gatal-gatal dan lain-lain," jelasnya.
Yusril menegaskan bahwa kritik dan temuan dari Ombudsman menjadi acuan bagi pemerintah untuk memperbaiki pengelolaan pemasyarakatan. "Dan terima kasih kepada Ombudsman yang telah menyampaikan satu kritik, dan kritik itu kita terima dengan baik," ujarnya. Rapat koordinasi tingkat menteri tersebut juga membahas langkah-langkah sistematis untuk mengatasi masalah kelebihan kapasitas yang ada.