Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menunjukkan penguatan, meninggalkan level Rp 17.700 per dolar AS pada Rabu, 20 Mei 2026. Penguatan ini terjadi setelah Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memberikan pidato yang membahas target pertumbuhan ekonomi yang ambisius untuk tahun 2027.
Menurut data dari Bloomberg, rupiah menguat sebesar 52 poin atau 0,29 persen, mencapai level Rp 17.653,5 per dolar AS pada penutupan perdagangan hari itu. Sebelumnya, nilai tukar rupiah berada pada posisi Rp 17.706 per dolar AS.
Respon Positif Pasar
Pasar memberikan respons positif terhadap pidato Presiden Prabowo Subianto di DPR RI, yang menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia antara 5,8 persen hingga 6,5 persen pada tahun 2027. Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa pidato tersebut memberikan harapan bagi pelaku pasar.
Dalam pidatonya, Prabowo juga mencatat bahwa rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia selama tujuh tahun terakhir adalah 5 persen. Namun, ia mengakui adanya penurunan jumlah kelas menengah dan peningkatan tingkat kemiskinan di masyarakat.
Target Inflasi dan Kebijakan Fiskal
Selain menargetkan pertumbuhan ekonomi, pemerintah juga menetapkan target inflasi antara 1,5 persen hingga 3,5 persen. Dari sisi nilai tukar, rupiah ditargetkan berada di kisaran Rp 16.800 hingga Rp 17.500 per dolar AS. Suku bunga untuk Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun diperkirakan berada pada rentang 6,5 hingga 7,3 persen.
Di sektor energi, harga minyak mentah Indonesia diperkirakan berkisar antara 70 hingga 90 dolar AS per barel, dengan lifting minyak mentah antara 602 ribu hingga 615 ribu barel per hari, serta lifting gas bumi setara minyak antara 934 ribu hingga 977 ribu barel per hari.
Prabowo juga mengungkapkan bahwa untuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun depan, pemerintah menargetkan pendapatan negara di kisaran 11,82 hingga 12,40 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), belanja negara antara 13,62 hingga 14,80 persen dari PDB, dan defisit dijaga di kisaran 1,8 hingga 2,4 persen dari PDB. Ia menegaskan, "kita akan berjuang terus untuk menekan dan memperkecil defisit."
Penguatan rupiah pada hari itu juga dipengaruhi oleh keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuan. BI memutuskan untuk menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin dari 4,75 persen menjadi 5,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2026. Suku bunga untuk deposit facility ditetapkan sebesar 4,25 persen dan lending facility sebesar 6,25 persen.
Keputusan ini mengakhiri periode delapan bulan di mana BI mempertahankan suku bunga. Ibrahim menjelaskan bahwa langkah ini diambil untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, terutama dalam menghadapi kondisi global yang memburuk akibat konflik di Timur Tengah, serta untuk menjaga pencapaian target inflasi 2026–2027 dalam rentang 2,5±1 persen.