Penyaluran pinjaman baru dalam mata uang yuan di China tercatat mencapai 10,72 triliun yuan selama semester pertama tahun 2026, yang jika dikonversi setara dengan sekitar Rp 28.600 triliun, dengan asumsi kurs sekitar Rp 2.666 per yuan. Data ini dirilis oleh Bank Rakyat China (People's Bank of China/PBOC) pada hari Rabu dan menunjukkan bahwa total pinjaman yuan yang beredar hingga akhir Juni mencapai 282,63 triliun yuan, atau sekitar Rp 753.900 triliun. Jumlah ini mengalami peningkatan sebesar 5,2 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.
Pertumbuhan Jumlah Uang Beredar
Selain pinjaman, jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) juga menunjukkan peningkatan yang signifikan. Pada akhir Juni 2026, M2 tercatat mencapai 356,71 triliun yuan, setara dengan sekitar Rp 951.000 triliun, meningkat sebesar 8 persen secara tahunan. M2 mencakup uang kartal yang beredar serta semua simpanan masyarakat di perbankan, sehingga sering digunakan sebagai indikator likuiditas dalam perekonomian. Di sisi lain, jumlah uang beredar dalam arti sempit (M1) mencapai 118,48 triliun yuan, yang setara dengan sekitar Rp 315.800 triliun, meningkat 4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. M1 mencakup uang tunai yang beredar, simpanan giro, serta dana cadangan milik nasabah pada lembaga pembayaran nonbank.
Kebijakan Moneter yang Akomodatif
Peningkatan penyaluran kredit dan pertumbuhan jumlah uang beredar mencerminkan kebijakan moneter yang tetap akomodatif di tengah upaya Beijing untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah China telah mendorong perbankan untuk meningkatkan penyaluran kredit guna mendukung investasi, konsumsi, serta membantu sektor properti dan pemerintah daerah yang masih menghadapi tekanan akibat perlambatan ekonomi.
Di balik lonjakan penyaluran pinjaman dan peningkatan jumlah uang beredar, terdapat strategi besar yang dijalankan oleh Bank Rakyat China. Bank sentral ini berupaya memastikan likuiditas tetap melimpah agar aktivitas ekonomi tidak kehilangan momentum di tengah berbagai tantangan, mulai dari lemahnya konsumsi rumah tangga hingga perlambatan investasi sektor swasta. Dalam dua tahun terakhir, Beijing telah menegaskan target pertumbuhan ekonomi tahunan berada di kisaran 5 persen, yang dianggap cukup ambisius mengingat ekonomi China tidak lagi menikmati pertumbuhan dua digit seperti pada dekade sebelumnya.
Oleh karena itu, kebijakan moneter yang lebih longgar menjadi salah satu instrumen utama untuk menjaga laju pertumbuhan tetap sesuai sasaran. Melalui peningkatan penyaluran kredit, PBOC berharap biaya pinjaman bagi dunia usaha dan masyarakat menjadi lebih terjangkau. Dengan akses pembiayaan yang lebih mudah, diharapkan perusahaan akan lebih berani untuk melakukan ekspansi, membangun pabrik baru, menambah kapasitas produksi, serta membuka lapangan pekerjaan. Di sisi lain, rumah tangga diharapkan lebih terdorong untuk membeli rumah, kendaraan, dan barang konsumsi lainnya.