Fakta Kesehatan

Pentingnya Memahami Bahan Tambahan dalam Produk Stevia

Produk stevia sering kali mengandung bahan tambahan yang dapat memengaruhi kesehatan. Memahami komposisi ini sangat penting untuk menghindari efek samping yang tidak diinginkan.

F
Fidzu Ardaf
30 October 2026
5 pembaca
ilustrasi seseorang memegang produk stevia (magnific.com/magnific)
ilustrasi seseorang memegang produk stevia (magnific.com/magnific)

Produk yang mengklaim mengandung stevia tidak selalu murni, karena sering kali ditambahkan bahan lain untuk meningkatkan volume, memperbaiki tekstur, atau memudahkan dalam penakarannya. Bahan-bahan seperti eritritol, sorbitol, dekstrosa, dan maltodekstrin memiliki efek yang berbeda-beda; beberapa di antaranya dapat menyebabkan masalah pencernaan, sementara dekstrosa dan maltodekstrin dapat meningkatkan kadar karbohidrat dalam produk tersebut.

Hanya dengan melihat nama bahan dalam produk tidak cukup untuk menyimpulkan apakah suatu produk berbahaya atau tidak. Penting untuk memperhatikan takaran, total karbohidrat, serta peraturan dari BPOM, serta toleransi individu terhadap bahan-bahan tersebut.

Komposisi dan Fungsi Bahan Tambahan

Dalam produk stevia, kita mungkin menemukan beberapa bahan tambahan seperti eritritol, sorbitol, dekstrosa, atau maltodekstrin. Bahan-bahan ini berfungsi untuk memberikan volume dan tekstur, sehingga pemanis yang sangat pekat lebih mudah digunakan. Pemanis ini dapat tersedia dalam berbagai bentuk, seperti serbuk, tablet, atau cairan, dan dapat mencakup pemanis dengan intensitas tinggi, poliol, serta bahan pangan lainnya.

Contohnya, ada produk yang menggabungkan stevia dengan eritritol, ada yang menggunakan maltodekstrin atau dekstrosa, dan ada pula yang menambahkan inulin atau silika. Oleh karena itu, produk stevia tidak selalu hanya terdiri dari stevia murni.

Risiko dan Batasan Konsumsi

Sebelum mengenali bahan-bahan campuran tersebut, penting untuk membedakan antara ekstrak stevia dengan steviol glikosida. Menurut Komite Ahli Bersama FAO/WHO tentang Bahan Tambahan Pangan (JECFA), batas asupan harian yang direkomendasikan untuk steviol glikosida adalah 0–4 mg/kg berat badan per hari, yang dihitung sebagai ekuivalen steviol. Namun, angka ini tidak serta merta berlaku untuk daun stevia utuh atau ekstrak yang belum diproses.

Berikut adalah beberapa bahan yang sering ditambahkan dalam produk stevia:

  1. Eritritol
  2. Sorbitol
  3. Dekstrosa
  4. Maltodekstrin
  5. Inulin
  6. Silika, perisa, atau pemanis lainnya

Eritritol adalah pemanis rendah kalori yang termasuk dalam kelompok gula alkohol (poliol). Dalam banyak produk stevia, eritritol sering ditambahkan untuk memberikan tekstur dan volume yang mirip dengan gula. Para ahli merekomendasikan batas asupan harian yang aman untuk eritritol sebesar 0,5 gram per kilogram berat badan per hari, untuk mengurangi risiko efek samping pada sistem pencernaan, seperti diare.

Beberapa studi juga telah meneliti pengaruh eritritol terhadap pembekuan darah. Dalam sebuah penelitian kecil yang melibatkan 20 orang sehat, konsumsi 30 gram eritritol diketahui dapat meningkatkan aktivitas trombosit. Namun, penelitian tersebut tidak menilai apakah hal ini berhubungan dengan risiko serangan jantung, stroke, atau penyakit kardiovaskular lainnya, sehingga hasilnya belum dapat membuktikan bahwa eritritol berbahaya.

Di sisi lain, sorbitol juga termasuk dalam kelompok poliol dan berfungsi sebagai pemanis serta penambah tekstur. JECFA menetapkan bahwa batas asupan harian untuk sorbitol tidak ditentukan, yang berarti tidak ada angka batas harian yang jelas. Sorbitol yang tidak sepenuhnya diserap dapat menarik air ke usus, dan konsumsi dalam jumlah besar dapat menyebabkan kembung, sakit perut, atau diare.

Dekstrosa, yang merupakan bentuk glukosa, digunakan dalam beberapa produk sebagai pembawa atau penambah volume untuk memudahkan penakaran stevia. Meskipun dekstrosa tidak selalu berbahaya, ia tetap menambah jumlah karbohidrat dan dapat memengaruhi kadar gula darah. Bagi mereka yang memperhatikan asupan karbohidrat, terutama penderita diabetes, penting untuk memeriksa jumlah karbohidrat per sajian yang tertera pada label.

Maltodekstrin, yang berasal dari pati, digunakan untuk memberikan volume atau memudahkan produk agar lebih mudah dituangkan. Maltodekstrin yang dapat dicerna akan diubah menjadi glukosa dan diserap oleh tubuh, sehingga dapat menambah asupan karbohidrat. Namun, ada juga maltodekstrin resisten yang lebih sulit dicerna dan berfungsi sebagai serat.

Inulin, yang merupakan serat, dapat ditambahkan untuk meningkatkan tekstur atau kandungan serat dalam produk. Namun, bagi sebagian orang, terutama jika dikonsumsi dalam jumlah besar, inulin dapat menyebabkan gas dan kembung. Toleransi tubuh terhadap serat bervariasi, sehingga orang yang sensitif sebaiknya mulai dengan jumlah kecil dan memperhatikan reaksi tubuh.

Silika atau silikon dioksida digunakan sebagai bahan antikempal agar serbuk tidak menggumpal. Penilaian dari EFSA pada tahun 2024 menyatakan bahwa silikon dioksida tidak menimbulkan kekhawatiran keamanan dalam penggunaan yang dilaporkan, meskipun masih ada keterbatasan data terkait partikel berukuran nano.

Beberapa produk juga dapat mengandung perisa, bahan dasar cair seperti air atau gliserin, serta pemanis lainnya. BPOM mengategorikan pemanis meja sebagai pangan yang penggunaannya harus mengikuti ketentuan keamanan, mutu, dan pelabelan. Oleh karena itu, penting untuk membaca daftar komposisi dan memilih produk yang memiliki nomor izin edar dari BPOM.

Tidak ada satu daftar bahan yang dapat dianggap “aman” atau “berbahaya” hanya berdasarkan namanya. Bahan pangan yang diizinkan dapat digunakan sesuai ketentuan, tetapi tetap bisa memiliki efek tertentu, seperti poliol yang dapat menyebabkan diare atau bahan pembawa berkarbohidrat yang perlu diperhatikan oleh penderita diabetes. Oleh karena itu, penting untuk memeriksa komposisi, jumlah karbohidrat per sajian, dan takaran konsumsi; serta mengurangi atau menghentikan penggunaan produk jika menyebabkan keluhan yang berulang.

Artikel Terkait