Universitas Hasanuddin (Unhas) baru saja meresmikan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berlokasi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Peresmian ini dianggap sebagai langkah penting dalam tata kelola program publik yang berbasis pada ilmu pengetahuan.
Ketua Umum DPP Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI) Abdul Rivai Ras menyatakan, “Ini bukan hanya dapur dalam pengertian operasional, ini adalah laboratorium hidup. Di sinilah ilmu, riset, inovasi, dan praktik bertemu dalam satu ekosistem yang utuh.” Menurutnya, pendekatan yang diterapkan di Unhas mencerminkan model ideal yang dapat menjembatani kesenjangan antara dunia akademik dan praktik di lapangan.
Abdul menjelaskan bahwa SPPG Unhas merupakan integrasi antara pusat produksi pengetahuan dan ruang aplikasinya. Dalam model ini, mahasiswa, peneliti, dan praktisi dapat bekerja dalam satu siklus yang saling mendukung. “Selama ini kita sering melihat riset berhenti di meja akademik, sementara praktik berjalan tanpa basis ilmiah yang kuat. Model seperti ini memutus mata rantai tersebut. Apa yang diteliti langsung diuji dan apa yang dijalankan langsung bisa diperbaiki secara ilmiah,” tambahnya.
Dia juga menekankan bahwa kedekatan antara ruang belajar dan ruang produksi akan mempercepat proses inovasi, efisiensi, dan kualitas hasil secara berkelanjutan. “Ketika pusat pembelajaran berdiri berdampingan dengan pusat produksi, proses inovasi menjadi jauh lebih cepat, adaptif, dan terukur. Ini yang kita lihat mulai dibangun di Unhas melalui dapur MBG,” ujarnya.
Peresmian SPPG Unhas juga dianggap memperkuat peran perguruan tinggi dalam pembangunan. Kampus tidak hanya berfungsi sebagai penghasil lulusan, tetapi juga sebagai penggerak solusi nyata bagi masyarakat. Model yang dikembangkan di Unhas diharapkan dapat menjadi acuan nasional dalam pengembangan dapur MBG, sehingga program ini dapat berjalan dengan kualitas yang baik dan berdampak jangka panjang.
“Ini adalah contoh bagaimana kebijakan publik bertemu dengan keunggulan akademik. Ketika keduanya berjalan bersama, kita tidak hanya menjalankan program, tetapi membangun sistem yang kuat untuk masa depan,” tuturnya.
Peresmian ini dihadiri oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto dan Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana. Brian Yuliarto menekankan bahwa fasilitas dapur yang dibangun Unhas merupakan langkah konkret dalam mendukung program MBG dan memperkuat posisi Unhas sebagai kampus mandiri. “Intinya adalah bagaimana dari perguruan tinggi bisa menjalankan peran untuk mendukung program prioritas Bapak Presiden, salah satunya adalah program MBG,” katanya.
Dadan Hindayana juga memberikan apresiasi terhadap komitmen Unhas dalam mendukung inisiatif strategis pemerintah. Unhas menjadi perguruan tinggi negeri berbadan hukum pertama yang membangun SPPG. “Keterbukaan kampus untuk terlibat dalam program MBG sangat penting karena teknologi, sumber daya manusia, dan inovasi yang dimiliki perguruan tinggi akan banyak manfaatnya untuk pengembangan program ini,” ucap Dadan.
Perkembangan lebih lanjut mengenai program ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat dan menjadikan Unhas sebagai contoh dalam pengembangan gizi yang berkelanjutan.