Fakta Politik

Pidato Prabowo di Istana: Menyoroti Koalisi Besar dan Tantangan Global

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan Jakarta, membahas berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia serta menanggapi kritik terhadap koalis...

D
Dila Rakasiwi
22 October 2026
24 pembaca
Presiden RI Prabowo Subianto memberikan pidato dalam Sidang Kabinet Paripurna yang digelar di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (21/10). (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)
Presiden RI Prabowo Subianto memberikan pidato dalam Sidang Kabinet Paripurna yang digelar di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (21/10). (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto memberikan pidato dalam Sidang Kabinet Paripurna yang berlangsung di Istana Kepresidenan Jakarta pada Rabu, 21 Oktober. Dalam pidatonya, Prabowo mengangkat berbagai isu, mulai dari politik hingga ekonomi yang berhubungan dengan Indonesia. Ia juga mengapresiasi kinerja timnya yang dinilai memuaskan selama dua tahun masa kepemimpinannya.

Prabowo menyatakan bahwa Kabinet Merah Putih di bawah pimpinannya telah bekerja keras untuk memberikan yang terbaik bagi rakyat. Ia mengakui bahwa selama dua tahun pemerintahannya, banyak tantangan yang harus dihadapi, termasuk dinamika global seperti konflik perang terbuka dan perang dagang. "Saya sebagai pemimpin saudara-saudara, saya sebagai yang diberi mandat oleh rakyat, saya merasa bahwa saudara-saudara sebagai pembantu-pembantu inti saya jalankan tugas untuk bangsa dan rakyat. Saya merasa bahwa saudara-saudara telah bekerja dengan sangat keras," ungkap Prabowo.

Koalisi Besar dan Tantangan Politik

Dalam pidatonya, Prabowo mengakui bahwa koalisi politik yang dibentuknya cukup besar. Ia menjelaskan bahwa hal ini dilakukan untuk merangkul semua kekuatan demi kepentingan bangsa. "Koalisi kita besar, benar, karena saya ingin sebanyak mungkin kekuatan bersatu untuk jalankan perbaikan kehidupan rakyat kita," tambahnya. Ia juga menyoroti bahwa salah satu kelemahan bangsa ini adalah adanya elit yang terkotak-kotak dan mengedepankan ego sektoral.

Prabowo menyadari bahwa dinamika politik di negara sebesar Indonesia sangatlah keras, di mana kursi kepemimpinan terbatas. "Dituduh kabinet gemuk ya kan, tidak efisien, tapi saudara-saudara saya ingatkan negara kita hampir 300 juta, negara kita fisiknya sebesar Eropa," jelasnya. Ia menekankan pentingnya persatuan nasional meskipun perbedaan dan kompetisi dalam demokrasi diperlukan. Ia juga mengingatkan tentang kondisi chaos di negara-negara Barat yang saat ini tengah terjadi.

Intervensi Asing dan Tantangan Pangan

Prabowo juga mengungkapkan bahwa banyak pemberontakan di masa lalu sering kali diintervensi oleh pihak asing yang tidak ingin Indonesia maju. "Bangsa-bangsa besar selalu intervensi, selalu ganggu kita, selalu menghasut perpecahan, selalu membiayai pemberontakan, kerusuhan, adu domba," tegasnya. Ia memberikan contoh beberapa gerakan pemberontakan yang terjadi di Indonesia, namun menegaskan bahwa Indonesia tetap kuat dan memiliki ketahanan nasional.

Dalam pidatonya, Prabowo mengingatkan bahwa pangan kini dapat menjadi senjata dalam persaingan global. Ia menilai bahwa perubahan situasi global menuntut Indonesia untuk memperhitungkan hubungan antara kepentingan ekonomi, politik, dan pertahanan. "Sekarang mata uang jadi senjata. Sekarang ekspor impor jadi senjata, sekarang pangan jadi senjata, beras jadi senjata. Jadi bisnis tidak bisa kita pandang murni bisnis," ujarnya.

Prabowo juga menekankan bahwa kebakaran hutan dan lahan yang melanda beberapa wilayah di Indonesia bukan hanya masalah alami, melainkan juga disebabkan oleh ulah manusia. Ia meminta aparat kepolisian untuk menyelidiki korporasi yang bertanggung jawab. "Kita anggap ini terorisme lingkungan, kejahatan terhadap kemanusiaan. Karena apa yang mereka lakukan membahayakan kesehatan jutaan rakyat kita," tegasnya.

Selain itu, Prabowo mengirim pesan kepada Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait ancaman penurunan status pasar modal Indonesia. Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak takut menghadapi tekanan, meskipun tantangan yang dihadapi masih besar. "MSCI, dia mau takut-takuti kita. Saya hanya katakan kepada MSCI, bangsa Indonesia tidak takut siapa pun dan tidak akan gentar," ujarnya. Ia menyadari bahwa masih banyak tantangan yang harus dihadapi, namun masyarakat mengharapkan hasil yang lebih baik.

Prabowo menyampaikan hal ini di tengah pengumuman MSCI mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari kategori pasar negara berkembang menjadi pasar mandiri. Keputusan final mengenai hal ini dijadwalkan akan diumumkan paling lambat 30 Juni 2027.

Artikel Terkait