Indonesia memiliki sekitar 40 persen dari total sumber daya geothermal dunia dengan potensi mencapai 24 Gigawatt (GW). Namun, saat ini, pemanfaatan energi terbarukan ini baru mencapai sekitar 11 persen, yaitu setara dengan 2,7 GW.
Yudistian Yunis, Direktur Utama PT Geo Dipa Energi (Persero), menjelaskan bahwa lambatnya pengembangan pemanfaatan geothermal di tanah air disebabkan oleh berbagai tantangan yang kompleks. Di antara tantangan tersebut adalah tingginya biaya eksplorasi, masalah harga, dan persepsi masyarakat mengenai isu lingkungan. "Pemerintah Indonesia punya 40% resource geothermal dunia. Kita punya 24 Giga potensi yang ekuivalen 40 persen resource dunia, yang baru dikembangkan hanya 11 persen. Baru sekitar 2,7 Giga hari ini dari 24 Giga, itu baru 2,7, baru 11% yang baru dikembangkan," ungkap Yudistian dalam Media Gathering Kemenkeu di Bogor, Jawa Barat.
Tantangan Biaya dan Risiko Eksplorasi
Yudistian menambahkan bahwa dari segi biaya, investasi awal untuk pengeboran sumur eksplorasi geothermal memerlukan dana yang sangat besar dengan risiko kegagalan yang tinggi. Ia menjelaskan bahwa pengeboran sumur tersebut dapat memerlukan biaya antara 6 hingga 8 juta Dolar AS, yang setara dengan Rp 107 miliar hingga Rp 142 miliar. "Ngebornya saja satu sumur itu antara 6-8 juta Dolar AS satu sumur. Kalau dia dapat uapnya. Kalau enggak dapat uapnya kan deg-degan," jelasnya.
Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa proses pengeboran yang dilakukan hingga kedalaman 2.000 meter memerlukan waktu sekitar 45 hari, yang menambah kompleksitas dan biaya dalam pengembangan geothermal.
Isu Sosial dan Persepsi Lingkungan
Di samping tingginya biaya pengeboran, persaingan harga listrik dari sumber energi fosil seperti batu bara yang lebih dahulu berkembang juga menjadi penghalang bagi penetrasi energi geothermal. Yudistian menyoroti bahwa persepsi masyarakat terkait dampak lingkungan sering kali menolak proyek geothermal di berbagai daerah. "Begitu pemerintah bilang panas bumi itu punya area konsesi atau WKP sekian puluh ribu hektar, bayangan masyarakat kita itu, 'Wah, sekian puluh ribu hektar itu akan di-scrape hutan kita karena dia akan bangun panas bumi,'" jelasnya.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Yudistian tetap optimis bahwa momentum transisi energi dan target Net Zero Emission akan mendorong akselerasi pengembangan geothermal di masa depan, terutama dengan adanya skema insentif dan pembiayaan dari pemerintah untuk mengurangi risiko eksplorasi.