Fakta Ekonomi

Proyeksi Inflasi Global Meningkat Menjadi 4,5 Persen karena Ketegangan di Timur Tengah

Bank Indonesia memperkirakan inflasi global akan meningkat menjadi 4,5 persen pada tahun 2026 akibat ketidakpastian yang ditimbulkan oleh konflik di Timur Tengah, sementara pertumbuhan ekonomi global...

S
Stevani Nila Wardana
22 July 2026
43 pembaca
Foto: Republika/Dian Fath Risalah
Foto: Republika/Dian Fath Risalah

Bank Indonesia (BI) memprediksi bahwa inflasi global pada tahun 2026 akan mengalami kenaikan seiring dengan meningkatnya ketidakpastian di tingkat global yang disebabkan oleh konflik di Timur Tengah. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan tetap lemah di angka 3 persen.

"Prospek pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2026 diperkirakan tetap lemah sebesar 3,0 persen dan inflasi global meningkat menjadi sekitar 4,5 persen," ungkap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang berlangsung secara virtual pada Rabu, 22 Juli 2026.

Peningkatan Proyeksi Inflasi

Proyeksi inflasi tersebut meningkat sebesar 0,1 poin persentase dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya yang berada di angka 4,4 persen. Perry menjelaskan bahwa peningkatan proyeksi inflasi ini disebabkan oleh dinamika geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang berpotensi mengganggu rantai pasokan serta mendorong kenaikan harga minyak dunia. Hal ini berpotensi meningkatkan inflasi secara global.

"Ketidakpastian global kembali meningkat pasca re-eskalasi intensitas perang antara AS dan Iran pada awal Juli 2026. Lalu lintas di Selat Hormuz kembali terhambat sehingga mengganggu produksi dan rantai pasok perdagangan antarnegara serta harga minyak dan berbagai komoditas dunia berbalik naik," terangnya.

Kebijakan Moneter dan Dampaknya

Perry melanjutkan bahwa kebijakan moneter global menjadi lebih ketat sebagai respons terhadap meningkatnya tekanan inflasi tersebut. BI memperkirakan suku bunga bank sentral AS akan mengalami kenaikan pada kuartal IV tahun 2026. "Suku bunga kebijakan moneter AS, Fed Funds Rate (FFR), diperkirakan naik lebih awal ke kuartal IV 2026. Imbal hasil (yield) US Treasury juga naik tinggi ke level 4,56 persen (tenor 10 tahun) dan 4,18 persen (tenor dua tahun) pada 20 Juli 2026 dan diperkirakan meningkat lagi didorong oleh melebarnya defisit fiskal AS," jelasnya.

Di pasar keuangan global, terjadi aliran modal keluar dari negara-negara pasar berkembang (emerging markets) yang beralih ke pasar keuangan AS serta aset yang menawarkan imbal hasil tinggi dan aman. Kondisi ini mendorong penguatan indeks dolar AS (DXY) serta indeks dolar terhadap mata uang negara berkembang (ADXY).

"Ketidakpastian perekonomian dan pasar keuangan global yang kembali meningkat tersebut mengharuskan penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik," ujarnya.

Artikel Terkait