Jakarta - Alas kaki merupakan elemen yang sangat penting dalam kehidupan manusia modern. Dengan perannya yang krusial dalam mendukung mobilitas sehari-hari, sejarah dan evolusi sepatu sepanjang peradaban manusia menjadi topik yang menarik untuk ditelusuri. Bayangkan kehidupan tanpa alas kaki; saat ini, bahkan sekadar keluar rumah dan berjalan di jalanan kota tanpa sepatu terasa sangat sulit. Tingginya kebutuhan akan alas kaki menjadikannya layak disebut sebagai 'kendaraan pertama' umat manusia.
Berdasarkan informasi dari Encyclopaedia Britannica, sepatu didefinisikan sebagai penutup luar untuk kaki, umumnya terbuat dari kulit dengan sol dan hak yang kaku atau tebal, serta biasanya memiliki tinggi tidak lebih dari pergelangan kaki untuk membedakannya dari sepatu bot.
Dikutip dari Live Science, penelitian antropologi terbaru mengungkap bahwa manusia mulai mengenakan sepatu sekitar 40 ribu tahun yang lalu, yang jauh lebih awal dari yang diperkirakan oleh para ilmuwan sebelumnya. Para antropolog meneliti sejarah alas kaki dengan menganalisis perubahan fisik pada tubuh manusia. Ternyata, kebiasaan memakai sepatu telah mengubah cara manusia berjalan dan mendistribusikan berat badan mereka. Bagi individu yang rutin menggunakan alas kaki, perubahan gaya berjalan ini pada akhirnya akan tercermin pada struktur tulang dan ligamen mereka.
Susan Cachel, seorang antropolog dari Rutgers University di New Jersey, menjelaskan bahwa dampak sepatu terhadap anatomi kaki telah diketahui sejak awal abad ke-20. Penelitian menunjukkan perbedaan signifikan antara kaki yang terbiasa memakai sepatu dan yang tidak. Misalnya, pemakaian sepatu yang terlalu sempit dapat menyebabkan pembengkakan menyakitkan pada tulang atau jaringan di area jempol kaki, yang dikenal sebagai bunion. Sebaliknya, manusia yang tidak mengenakan sepatu memiliki bentuk kaki yang lebih lebar dengan celah yang lebih besar antara jempol dan keempat jari lainnya. Selain itu, perempuan yang sering mengenakan sepatu hak tinggi cenderung memiliki otot betis yang lebih kecil.
Erik Trinkaus, seorang antropolog dari Washington University di St. Louis, adalah yang pertama menerapkan pemahaman medis ini dalam bidang antropologi. Ia menemukan bahwa ukuran tulang jari kaki manusia mulai menyusut pada suatu masa dalam sejarah. Dengan menggabungkan data penyusutan tersebut dan pengetahuan tentang bagaimana alas kaki mengubah cara orang berjalan, Trinkaus menyimpulkan bahwa penyusutan tulang jari kaki adalah tanda bahwa manusia telah mulai memakai sepatu.
Meskipun bentuk sepatu tertua yang ditemukan dan masih ada hingga kini baru berusia sekitar 10 ribu tahun, penelitian yang dilakukan oleh Trinkaus pada tahun 2005 berhasil menarik mundur sejarah penggunaan alas kaki hingga hampir 30 ribu tahun yang lalu. Melalui analisis lebih lanjut yang diterbitkan dalam Journal of Archaeological Science, Trinkaus menemukan bukti baru bahwa manusia kemungkinan besar sudah mulai mengenakan alas kaki jauh lebih awal, yakni sekitar 40 ribu tahun yang lalu. Teori ini didasarkan pada fakta bahwa ukuran tulang tidak tetap.
Sepanjang sejarahnya, manusia memiliki tulang jari kaki yang besar dan tebal, yang disebabkan oleh aktivitas berjalan, memanjat, dan membawa barang lebih banyak dibandingkan manusia modern saat ini. Trinkaus mencatat bahwa sekitar 40.000 tahun yang lalu, perubahan mulai terjadi. Ia memperhatikan bahwa kerangka dari periode ini masih memiliki tulang kaki yang kuat dan tebal, tetapi jari kaki mereka tiba-tiba menjadi lebih kecil. "Mereka memiliki jari kaki yang lemah. Saya mencoba mencari tahu apa yang dapat mengurangi tekanan pada jari kaki, tetapi tidak pada kaki, dan jawabannya adalah sepatu," jelas Trinkaus.
Pendapat Trinkaus ini didukung oleh ahli biologi evolusioner dari Universitas Harvard, Daniel Lieberman, yang memperkirakan bahwa alas kaki sebenarnya sudah umum digunakan sejak 35.000 hingga 50.000 tahun lalu untuk melindungi kaki manusia prasejarah dari suhu ekstrem dan benda tajam. "Sepatu itu nyaman. Sepatu melindungi kaki Anda dari panas dan dingin serta dari benda-benda yang dapat menusuk. Dan terkadang sepatu juga dapat mengurangi beban kerja otot kaki Anda. Tetapi sepatu juga memiliki konsekuensi negatif," kata Lieberman.
Berikut adalah beberapa bukti sepatu tertua yang ditemukan di berbagai belahan dunia:
1. Sepatu Otzi - 5.300 Tahun: Sepatu ini milik Manusia Es Otzi, yang ditemukan pada 1991 dalam kondisi terawetkan di gletser Pegunungan Alpen Otztal. Berasal dari sekitar 3350 SM, sepatu ini terbuat dari perpaduan bulu dan kulit beruang, rusa, serta sapi.
2. Sepatu Areni-1 - 5.500 Tahun: Ditemukan di gua Areni-1 di Armenia pada 2008, sepatu ini berusia sekitar 3.500 SM dan mirip dengan sepatu selop kulit modern.
3. Sandal Spanyol - 6.200 Tahun: Sandal tertua yang ditemukan di Eropa, terbuat dari rumput kering yang dianyam, menunjukkan tingkat kehati-hatian desain yang tinggi.
4. Sandal Great Basin - Lebih dari 8.000 Tahun: Ditemukan di Oregon, Amerika Serikat, sandal ini merupakan alas kaki prasejarah tertua yang diketahui, berusia sekitar 2.000 tahun lebih tua dari sandal Spanyol.
Sejarah sepatu menunjukkan betapa pentingnya alas kaki dalam kehidupan manusia, serta dampaknya terhadap kesehatan dan evolusi fisik manusia. Penelitian lebih lanjut diharapkan dapat mengungkap lebih banyak tentang penggunaan sepatu di masa lalu dan dampaknya di masa kini.