Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk tingkat SMA/SMK/sederajat gelombang pertama telah berakhir. Namun, pada hari kedua pelaksanaan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menemukan adanya masalah jaringan yang mengakibatkan beberapa peserta harus menjalani ujian ulang pada mata pelajaran bahasa Inggris dan Asesmen Nasional (AN) Survei Lingkungan Belajar pada Jumat, 30 Oktober 2026. SMAN 68 Jakarta adalah salah satu sekolah yang terpaksa mengadakan ujian ulang tersebut.
Selama ujian ulang, Mendikdasmen Abdul Mu'ti hadir untuk memantau proses berlangsungnya ujian. Dalam kesempatan itu, seorang peserta TKA bernama Davana Kamil melaporkan dugaan adanya kecurangan dalam pelaksanaan ujian kepada Menteri Mu'ti. Davana menyampaikan, "Terkait TKA ini, saya banyak sekali, banyak sekali informasi bahwa ada kecurangan," saat berbicara dengan Mendikdasmen di SMAN 68 Jakarta.
Harapan untuk Penegakan Keadilan
Davana berharap agar Mendikdasmen segera menindak tegas pelaku kecurangan agar peserta yang mengikuti ujian dengan jujur, termasuk dirinya dan teman-temannya di SMAN 68 Jakarta, dapat memperoleh hasil yang adil. Ia menambahkan, "Saya harap tindakan-tindakan penegakan keadilan itu dapat ditegakkan sebagaimana mestinya. Supaya kami yang jujur di sini itu bisa mendapatkan hasil yang sesuai. Jadi, nggak dikalahkan oleh mereka yang kurang jujur."
Mendikdasmen Mu'ti mengapresiasi laporan yang disampaikan oleh Davana dan menegaskan bahwa setiap kecurangan yang terdeteksi selama pelaksanaan TKA akan ditindak. Ia menjelaskan bahwa peserta yang terbukti melakukan kecurangan akan mendapatkan nilai nol (0) pada mata pelajaran tersebut. Selain itu, pengawas yang tidak jujur juga akan dikenakan sanksi blacklist sehingga tidak dapat lagi bertugas sebagai pengawas.
Mu'ti menegaskan, "Begitu kamu menemukan ada yang curang, nilainya langsung kami berikan nol, jadi jangan khawatir. Misalnya, ada yang iseng live YouTube saat ujian atau ada pengawas yang tidak jujur, kami langsung blacklist." Ia menambahkan bahwa TKA bukan hanya sekadar tes akademik, tetapi juga merupakan tes karakter. Oleh karena itu, slogan yang diterapkan adalah 'Jujur dan Gembira'.
Pendidikan yang Merata untuk Semua
Dalam kesempatan tersebut, Davana juga menyampaikan harapannya agar pendidikan di Indonesia menjadi lebih merata, terutama untuk daerah-daerah terpencil. Ia mengungkapkan, "Karena saya kan datang dari Pangandaran, di sana masih ada sekolah yang bisa dikatakan kurang layak untuk beroperasional. Supaya ke depannya, pendidikan itu nggak cuma ada di kota tapi juga ada di seluruh Indonesia."
Mendikdasmen Mu'ti kembali mengucapkan terima kasih atas masukan yang diberikan oleh Davana, menegaskan pentingnya pendidikan yang berkualitas untuk semua lapisan masyarakat.