Fakta Pendidikan

Tiga Gua Bawah Air yang Pernah Terletak di Daratan, Termasuk di Indonesia

Beberapa gua bawah air yang ada saat ini dulunya berada di daratan dan dilalui oleh manusia serta hewan purba. Temuan ini mengungkapkan jejak keberadaan mereka yang terjadi ribuan tahun lalu.

W
Wira Yudha
29 July 2026
6 pembaca
Foto: Proyek lift di tebing curam Pantai Kelingking, Nusa Penida, Klungkung, Bali. (Foto: Dok. Istimewa)
Foto: Proyek lift di tebing curam Pantai Kelingking, Nusa Penida, Klungkung, Bali. (Foto: Dok. Istimewa)

Jakarta - Berbagai gua bawah air yang kini kita kenal ternyata dulunya pernah berada di daratan kering. Manusia dan hewan purba pernah menjelajahi lokasi-lokasi ini, baik untuk tempat tinggal maupun mencari sumber air tawar. Penelitian menunjukkan bahwa jejak keberadaan mereka dapat ditemukan di gua-gua tersebut, yang terjadi belasan ribu tahun yang lalu, baik secara sengaja maupun tidak.

Gua Cosquer, Prancis

Gua ini terendam sekitar 10.000 tahun yang lalu, ketika permukaan laut berada sekitar 120 meter lebih rendah dibandingkan saat ini, sehingga garis pantai berada beberapa kilometer lebih jauh. Hal ini memungkinkan manusia pada masa itu untuk menghuni gua tersebut, seperti yang dilaporkan oleh laman Arkeologi Kementerian Kebudayaan Prancis. Di dalam gua ini, ditemukan sekitar 500 lukisan dan ukiran yang berasal dari dua periode berbeda pada masa Paleolitikum, yaitu sekitar 27.000 tahun yang lalu dan 19.000 tahun yang lalu.

Beberapa lukisan dan ukiran tersebut menggambarkan berbagai hewan, termasuk bison, antelop, kambing gunung, anjing laut, burung auk, dan kuda. Selain itu, terdapat sekitar 200 desain geometris. Salah satu ukiran menampilkan makhluk setengah manusia dan setengah anjing laut. Gambar-gambar tersebut juga menunjukkan stensil tangan berwarna merah atau hitam, dengan beberapa di antaranya berbentuk garis luar, dan telapak tangan yang berwarna. Menariknya, ibu jari pada tangan-tangan tersebut selalu tergambar utuh, sementara beberapa jari lainnya sering kali hilang atau terpotong. Analisis komputer menunjukkan bahwa mayoritas tangan yang digambar adalah milik perempuan.

Song Toyapakeh, Indonesia

Gua bawah air yang terletak di Desa Toyapakeh, Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali, dulunya berada di atas permukaan laut. Area ini dapat diakses oleh manusia prasejarah dan hewan sebelum akhirnya terendam akibat naiknya permukaan laut setelah Zaman Es. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan bahwa situs ini menyimpan berbagai fosil hewan bertulang belakang, termasuk fosil tulang rahang bawah dan tulang belikat dari ordo Proboscidae (gajah dan mastodon), serta fosil tulang kelangkang kura-kura dan tulang paha dari famili Cervidae (seperti rusa dan kijang).

Para peneliti memperkirakan bahwa Nusa Penida dulunya merupakan bagian penting dari rute penyeberangan di kepulauan Wallacea, serta jembatan darat antara Bali dan Lombok, yang mendukung persebaran manusia prasejarah di Asia Tenggara. Selain itu, artefak tajaman berbentuk mata panah atau tombak yang diduga buatan manusia juga ditemukan di lokasi ini. Gendro Keling, peneliti dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan BRIN, berharap pengembangan berbasis riset dan pelestarian dapat mendukung masyarakat setempat dalam meningkatkan daya tarik situs sebagai destinasi wisata bawah air yang bertema sejarah dan arkeologi. "Dengan pengembangan berbasis riset dan pelestarian, situs ini diharapkan menjadi sarana wisata sekaligus edukasi publik, sambil melibatkan masyarakat lokal untuk menjaga keseimbangan antara pelestarian situs dan kesejahteraan warga sekitar," ujarnya.

Sistem Gua Semenanjung Yucatan, Meksiko

Kira-kira 13.000 tahun yang lalu, pada akhir Zaman Es terakhir, sejumlah gua bawah tanah di Semenanjung Yucatan masih berada di daratan. Penduduk prasejarah dan hewan sering kali menjelajahi lorong-lorong gua yang licin untuk mencari air tawar dari sistem gua yang menjadi sumber air utama mereka. Dalam pencarian tersebut, berbagai hewan jatuh ke lubang berbentuk lonceng yang dikenal sebagai Hoyo Negro (Lubang Hitam), yang memiliki kedalaman sekitar 30 meter dan lebar hingga 60 meter, menurut laman Sekolah Jurnalisme, Media, dan Komunikasi Pemasaran Terintegrasi Medill, Northwestern University.

Di dalam lubang tersebut, para peneliti menemukan sisa-sisa kerangka manusia prasejarah, termasuk Naia, seorang perempuan berusia 15-16 tahun yang tingginya kurang dari 150 cm, yang jatuh ke dalam air dangkal dan menghantam batu hingga menyebabkan kematiannya. Kerangkanya hampir utuh dan terawetkan dengan baik di bawah air saat ditemukan oleh penyelam gua. Selain itu, banyak kerangka hewan yang telah punah dari Zaman Pleistosen juga ditemukan di gua ini, seperti gomphotetheres (hewan mirip gajah), kucing bertaring pedang, slot tanah raksasa, anjing purba, dan beruang purba. Beberapa kerangka hewan yang masih ada hingga kini, seperti tapir, puma, dan kelelawar, juga ditemukan di lokasi tersebut, sebagaimana dilaporkan oleh laman Qualcomm Institute, University of California (UC) San Diego.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait