Fakta Nasional

Tragedi Kapal Migran, 139 Nyawa Melayang di Laut Djibouti

Sebuah kapal yang membawa ratusan migran tenggelam dalam perjalanan dari Djibouti menuju Yaman, mengakibatkan 139 orang tewas, termasuk 15 anak-anak, dan 84 orang hilang.

P
Padma Dewi
12 October 2026
25 pembaca
Ilustrasi kapal tenggelam. (Getty Images/iStockphoto/pungem)
Ilustrasi kapal tenggelam. (Getty Images/iStockphoto/pungem)

Dalam sebuah insiden tragis, sebuah kapal yang mengangkut ratusan migran mengalami kelebihan muatan dan tenggelam saat berlayar dari Djibouti menuju Yaman. Kejadian ini menewaskan setidaknya 139 migran, termasuk 15 anak-anak, sementara 84 orang lainnya dilaporkan hilang.

Menurut informasi yang disampaikan oleh Organisasi Internasional untuk Migrasi PBB (IOM), kapal tersebut membawa 305 penumpang, sebagian besar berasal dari Ethiopia, dan terbalik di dekat kota Obock, Djibouti. "Para penyintas mengatakan kepada saya bahwa kapal mulai tenggelam dari bagian belakang segera setelah mereka menaikinya," ungkap Alexandre Coissac, kepala misi IOM di Djibouti.

Angka Korban yang Meningkat

IOM awalnya melaporkan bahwa jumlah korban tewas mencapai 109 orang dan 116 orang hilang, namun angka tersebut kemudian direvisi menjadi 139 tewas dan 84 hilang setelah lebih banyak jenazah ditemukan. Coissac juga menyampaikan, "Ini adalah hilangnya nyawa yang sangat memilukan." Ia menambahkan, "Doa kami menyertai para penyintas dan keluarga yang telah kehilangan orang-orang terkasih atau yang masih belum mendapat kabar mengenai kerabat mereka."

Bantuan Darurat Diberikan

Tim IOM saat ini berada di lokasi kejadian bersama otoritas Djibouti untuk memberikan bantuan darurat. Coissac menyatakan, "Tragedi ini merupakan pengingat nyata akan bahaya yang dihadapi para migran di sepanjang koridor migrasi ini saat mereka mencari peluang ekonomi." Para migran tersebut berusaha menyeberangi Selat Bab al-Mandeb untuk mencapai Yaman dan kemudian melanjutkan perjalanan ke negara-negara Teluk.

Coissac juga berbicara dengan salah satu penyintas yang berasal dari wilayah Tigray di Ethiopia utara, yang saat ini tengah mengalami konflik antara kelompok pemberontak dan pemerintah federal di tengah meningkatnya kekerasan baru-baru ini.

Artikel Terkait