Fakta Nasional

Uni Eropa Menilai Panel Surya China Sebagai Ancaman Keamanan Jaringan Listrik

Komisi Eropa berencana untuk menghentikan pendanaan bagi teknologi surya dari China, mengingat potensi ancaman terhadap keamanan jaringan listrik di Eropa. Keputusan ini mencerminkan kekhawatiran yang...

P
Padma Dewi
10 May 2026
17 pembaca
Ilustrasi panel surya (via DW)
Ilustrasi panel surya (via DW)

Komisi Eropa telah mengambil langkah untuk menghentikan pendanaan Uni Eropa bagi teknologi panel surya yang berasal dari China. Langkah ini diambil karena adanya kekhawatiran bahwa teknologi tersebut dapat menimbulkan ancaman bagi keamanan jaringan listrik di Eropa, bahkan berpotensi menyebabkan pemadaman listrik secara total. Keputusan ini diambil pada tanggal 4 Mei dan mencerminkan meningkatnya kekhawatiran di Brussel terkait ketergantungan Eropa terhadap teknologi ramah lingkungan dari China serta kerentanan infrastruktur kritis yang ada.

Larangan pendanaan ini berfokus pada inverter surya, yang dianggap sebagai "otak" dari sistem panel surya. Inverter berfungsi untuk mengubah energi dari sinar matahari menjadi listrik yang dapat digunakan. Perangkat ini terhubung ke internet dan sering kali dapat diakses dari jarak jauh untuk keperluan pemeliharaan dan pembaruan perangkat lunak. Dalam konteks ini, Christoph Podewils, sekretaris jenderal European Solar Manufacturing Council, menjelaskan bahwa semua produsen inverter dilengkapi dengan semacam tombol pemutus darurat yang berfungsi untuk keamanan dan stabilisasi jaringan.

Potensi Pemadaman Listrik di Eropa

Namun, para ahli keamanan siber memperingatkan bahwa dalam skenario terburuk, peretas atau pihak yang bermusuhan dapat memanfaatkan koneksi jarak jauh ini untuk mengganggu pasokan listrik. Swantje Westphal, seorang ahli keamanan siber, mengungkapkan bahwa "skenario terburuknya adalah pemadaman listrik berskala besar di seluruh Eropa." Menurut Organisasi Riset Loom yang berbasis di Jenewa, pada tahun 2024, 61% dari total inverter yang diimpor ke Eropa berasal dari China, dengan produsen seperti Huawei dan Sungrow mendominasi pasar global.

Sejumlah perusahaan asal China telah menyediakan perangkat keras untuk lebih dari 220 gigawatt kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang terpasang di Eropa. Podewils menambahkan bahwa "mengendalikan sekitar 10 gigawatt saja sudah cukup untuk menciptakan gangguan besar pada jaringan listrik Eropa."

Kekhawatiran Terhadap Perangkat Komunikasi Berbahaya

Meskipun hingga saat ini belum ada laporan mengenai inverter dari China yang digunakan untuk mematikan jaringan listrik di Eropa, kekhawatiran meningkat setelah laporan dari Reuters pada tahun 2025 menyebutkan bahwa otoritas energi AS menemukan perangkat komunikasi yang berpotensi berbahaya di beberapa inverter buatan China. Westphal menegaskan bahwa "ancaman ini nyata," dan bukan sekadar hipotesis.

Perdebatan mengenai inverter ini muncul di tengah evaluasi kembali ketergantungan Eropa terhadap impor teknologi bersih dari China. Menurut Loom, China mengekspor 98% panel surya dan 88% baterai lithium-ion ke Eropa, dan fungsi pengendali jarak jauh yang terhubung dengan teknologi energi ini berpotensi menciptakan kerentanan dalam sistem tenaga listrik secara keseluruhan.

Brussels semakin tegas dalam menangani impor teknologi dari China yang dianggap berisiko. Pada bulan Maret, Komisi Eropa mengumumkan RUU Akselerator Industri yang bertujuan untuk mengarahkan lebih banyak pendanaan pada teknologi hijau buatan Eropa, termasuk baterai dan kendaraan listrik. Selain itu, revisi RUU Keamanan Siber juga memberikan wewenang lebih besar kepada Brussel untuk membatasi keterlibatan perusahaan-perusahaan China dalam infrastruktur kritis di seluruh negara anggota Uni Eropa.

Melalui kebijakan terbaru ini, dana Uni Eropa yang dikelola oleh Komisi dan lembaga seperti Bank Eropa untuk Rekonstruksi dan Pembangunan tidak dapat digunakan untuk membeli inverter surya buatan China. Namun, pembatasan ini tidak berlaku untuk pembelian yang dilakukan langsung oleh negara-negara anggota Uni Eropa, dan inverter yang sudah terpasang di Eropa tetap dapat beroperasi. Westphal menyatakan, "Ini adalah langkah ke arah yang benar, tapi kami tidak melarang inverter buatan China dari pasar kami."

Saat ini, sekitar 80% sistem PLTS baru di Eropa masih bergantung pada inverter buatan China. Jika permintaan tidak dapat dipenuhi oleh produsen China, maka produsen Eropa harus siap mengisi kekosongan tersebut. Podewils percaya bahwa pemasok Eropa sudah siap untuk meningkatkan kapasitas produksi dalam waktu beberapa bulan untuk memenuhi permintaan yang ada. Meskipun inverter buatan Eropa diperkirakan 2% lebih mahal daripada produk dari China, Podewils berpendapat bahwa biaya tambahan tersebut dapat dibenarkan sebagai "biaya asuransi" untuk melindungi dari risiko di masa depan.

Artikel Terkait