Fakta Pendidikan

Analisis BRIN Mengenai Pergerakan Jurnalis yang Hilang di Selat Sunda

Pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda telah dihentikan setelah sepuluh hari tanpa hasil. Tim BRIN melakukan pemodelan...

D
Dila Rakasiwi
19 September 2026
33 pembaca
Pancarian jurnalis dan tiga awak kapal hilang di Selat Sunda. Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Pancarian jurnalis dan tiga awak kapal hilang di Selat Sunda. Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Jakarta - Pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga anggota awak kapal yang tidak dapat dihubungi saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda resmi dihentikan oleh tim Search and Rescue (SAR). Penghentian pencarian ini dilakukan setelah sepuluh hari berlalu tanpa menemukan korban.

Menanggapi insiden tersebut, tim Ocean Climate Research Group (OCRG) dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN melakukan pemodelan untuk memperkirakan kemungkinan pergerakan delapan orang yang hilang. Pemodelan ini melibatkan ribuan partikel hipotetik untuk menghasilkan peta probabilitas yang menunjukkan potensi penyebaran berdasarkan dinamika arus, angin, dan gelombang.

Pemodelan untuk Memahami Pergerakan

Kajian ini dipimpin oleh peneliti PRIMA BRIN, Widodo Setiyo Pranowo. Ia menjelaskan bahwa pemodelan ini bertujuan untuk memberikan informasi ilmiah yang dapat membantu dalam memahami skenario lintasan pergerakan rombongan yang hilang. "Kecepatan hanyut yang dibangkitkan gelombang itu sekitar 40% dari total arus permukaan yang ada di lokasi itu. Jadi, kondisi arus seperti ini akan sangat penting bagi prediksi penyebaran," ungkap Widodo dalam laman BRIN.

Widodo juga menekankan bahwa dinamika arus dan gelombang merupakan faktor kunci dalam memperkirakan arah dan kecepatan hanyut. Dalam simulasi, tim BRIN menggunakan ribuan partikel hipotetik yang mewakili orang dengan berat badan tertentu dan pelampung. Pergerakan partikel tersebut dihitung secara berkala dengan mempertimbangkan arus dan angin, serta penyimpangan arah akibat bagian tubuh yang berada di atas permukaan air.

Skenario Pergerakan yang Beragam

Dalam simulasi, tim menyusun delapan skenario kemungkinan pergerakan. Salah satu skenario menunjukkan bahwa partikel bergerak ke barat menyusuri pesisir Lampung, sementara skenario lain menunjukkan pergerakan ke arah barat laut melalui arus pantai Samudra Hindia. "Hasil pemodelan menunjukkan pentingnya ketepatan informasi lokasi awal; variasi koordinat lokasi hilang kontak yang berbeda sekitar 30 kilometer menghasilkan lintasan yang sangat berbeda," jelas Widodo.

Dari hasil pemodelan, area yang mencakup 95% kemungkinan posisi korban dapat semakin meluas seiring berjalannya waktu. Dari luas 2.700 km persegi pada hari keenam, area tersebut bisa berkembang menjadi lebih dari 10.500 km persegi pada hari keempat belas. Widodo menegaskan bahwa hasil pemodelan ini tidak menunjukkan lokasi pasti keberadaan korban, melainkan memberikan gambaran kemungkinan pergerakan berdasarkan parameter kelautan.

Tim OCRG BRIN juga mencatat bahwa hasil simulasi memiliki keterbatasan, seperti penggunaan data angin yang diperkirakan dari tinggi gelombang dan asumsi bahwa korban tetap mengapung dengan bantuan pelampung. Namun, kajian ini diharapkan dapat memberikan data dan informasi yang berguna untuk kesiagaan di masa depan jika insiden serupa terjadi kembali.

"Pengembangan protokol pemodelan hanyut, pemasangan pelampung berpenjejak satelit, serta pencatatan koordinat kejadian secara seragam dan terverifikasi adalah langkah-langkah yang dapat dikembangkan lebih lanjut," pungkasnya.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait