Tuesday, 05 May 2026
Fakta Hukum

ASEAN Tegaskan Pentingnya Rantai Pasokan Global di Tengah Ketegangan di Selat Hormuz

Para menteri ekonomi ASEAN menekankan perlunya menjaga stabilitas rantai pasokan global dan jalur perdagangan maritim di tengah ketegangan yang terjadi di Selat Hormuz akibat konflik antara AS, Israel...

N
Naufal Akbar
05 May 2026 2 pembaca
ASEAN Tegaskan Pentingnya Rantai Pasokan Global di Tengah Ketegangan di Selat Hormuz

Para menteri Dewan Komunitas Ekonomi ASEAN (AECC) menegaskan pentingnya menjaga rantai pasokan global serta jalur perdagangan maritim yang stabil, aman, dan berkelanjutan. Pernyataan ini disampaikan dalam pertemuan melalui konferensi video pada 30 April lalu, di tengah gangguan yang terjadi di Selat Hormuz akibat perang antara AS dan Israel melawan Iran.

Dalam pertemuan tersebut, para menteri ekonomi negara anggota ASEAN menyampaikan keprihatinan mendalam terkait gangguan di Selat Hormuz, yang merupakan jalur bagi seperempat ekspor minyak dan gas alam cair global. Gangguan ini telah menyebabkan krisis energi serta dampak yang luas pada perdagangan, pangan, dan keuangan. “Untuk meminimalkan gangguan terhadap arus perdagangan energi, kami menggarisbawahi pentingnya menjaga jalur laut yang aman dan terbuka, memastikan kebebasan navigasi, dan jalur transit kapal dan pesawat yang aman, tanpa hambatan, dan berkelanjutan di selat yang digunakan untuk navigasi internasional, sesuai dengan hukum internasional, termasuk Konvensi PBB tentang Hukum 1982 (UNCLOS),” demikian pernyataan bersama AECC.

Para menteri juga menegaskan komitmen untuk menerapkan Perjanjian ASEAN, serta menahan diri dari pemberlakuan langkah non-tarif yang tidak perlu dan kebijakan lain yang dapat menghambat perdagangan, khususnya pada sektor energi, pangan, dan komoditas penting lainnya. Sambil terus memantau perkembangan di Timur Tengah, ASEAN akan memperkuat kerja sama, termasuk dengan mitra eksternal, untuk menanggapi krisis dan mendukung ketahanan kawasan.

“Kami menugaskan pejabat ekonomi senior dan badan-badan sektoral terkait untuk memantau dan menilai secara cermat perkembangan strategi regional yang komprehensif dan terpadu untuk mengatasi dampak ekonomi dari konflik Timur Tengah,” tambah pernyataan AECC.

Selat Hormuz tetap menjadi “titik api” sejak konflik antara AS dan Israel melawan Iran dimulai pada akhir Februari. Iran telah mengambil alih kendali atas jalur maritim strategis tersebut sebagai respons terhadap serangan dari AS dan Israel. Baru-baru ini, AS memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di selat tersebut, menyusul gagalnya negosiasi damai setelah berakhirnya gencatan senjata.

Tidak ada tag untuk artikel ini

// Artikel Terkait