Fakta Pendidikan

Bahaya Terlalu Sering Curhat ke Chatbot AI Menurut Ahli Harvard

Masyarakat semakin banyak yang berbagi cerita dengan chatbot AI, namun para peneliti dari Harvard University memperingatkan adanya risiko yang mungkin timbul dari kebiasaan ini.

A
Amara Rukmana
16 June 2026
3 pembaca
Bahaya Terlalu Sering Curhat ke Chatbot AI Menurut Ahli Harvard
Foto: Getty Images/Milan_Jovic/Ilustrasi penggunaan chatbot AI.

Jakarta - Penggunaan chatbot AI seperti ChatGPT dan Claude semakin meluas, di mana banyak orang mulai mengandalkan teknologi ini untuk berbagi cerita dan mencari dukungan emosional. Respons yang cepat dan tampak ramah dari AI membuat banyak pengguna merasa lebih nyaman berinteraksi dengan mesin dibandingkan dengan manusia. Namun, para peneliti dan ahli etika dari Harvard University mengingatkan bahwa kebiasaan ini dapat membawa dampak negatif.

Risiko Interaksi dengan Chatbot

Dalam sebuah diskusi mengenai etika AI, para ahli menilai bahwa chatbot yang terlalu mendukung dapat memengaruhi cara manusia berpikir dan berinteraksi serta memahami hubungan sosial di dunia nyata. Mereka menekankan bahwa "empati" yang ditunjukkan oleh chatbot sebenarnya hanyalah simulasi, bukan bentuk kepedulian yang sejati.

Carissa Véliz, Associate Professor of Philosophy di University of Oxford, menjelaskan bahwa chatbot dirancang untuk menciptakan kenyamanan bagi pengguna agar terus menggunakan layanan tersebut. Menurutnya, AI cenderung memberikan respons yang diinginkan oleh manusia, bukan berdasarkan kebenaran atau kepentingan terbaik pengguna. "Tidak ada siapa pun di balik layar yang benar-benar peduli pada Anda," ungkap Véliz.

Dampak Negatif pada Keterampilan Sosial

Véliz juga mengingatkan bahwa terlalu sering mendapatkan validasi dari chatbot dapat membuat seseorang kesulitan menerima kritik atau perbedaan pendapat dari orang lain. Ketidaksetujuan dalam interaksi nyata justru penting untuk perkembangan pribadi. "Kalau Anda membosankan, penting juga untuk tahu bahwa Anda memang membosankan," tegasnya, menekankan bahwa ketidaknyamanan terkadang menjadi masukan sosial yang sehat.

Panelis lainnya juga menggarisbawahi risiko jika chatbot dijadikan sumber utama untuk dukungan emosional, terutama bagi anak-anak dan remaja. Chatbot yang selalu sabar dan setuju dengan pengguna dapat menciptakan ekspektasi yang tidak realistis terhadap hubungan sosial di dunia nyata. Hal ini dapat membuat interaksi dengan manusia yang lebih kompleks terasa melelahkan atau mengecewakan.

Jonathan Zittrain, seorang profesor di Harvard Law School, menambahkan bahwa meskipun chatbot dapat membantu dalam beberapa situasi, seperti di bidang kesehatan dan pendidikan, ada kekhawatiran bahwa ketergantungan pada AI dapat mengurangi interaksi antarmanusia. "Itu menjadi versi murah dari hubungan manusia yang sebenarnya," ujarnya.

Selain itu, para ahli juga mempertanyakan tanggung jawab ketika chatbot memberikan saran yang salah, terutama dalam konteks medis atau kesehatan mental. Karena AI beroperasi berdasarkan algoritma, sering kali sulit untuk menentukan siapa yang bertanggung jawab jika terjadi kesalahan yang berdampak negatif pada pengguna.

Pentingnya Keseimbangan dalam Interaksi

Meskipun mengkritik risiko yang ditimbulkan oleh chatbot, para ahli menegaskan bahwa AI tetap memiliki banyak manfaat dan tidak perlu sepenuhnya ditolak. Teknologi ini dapat membantu manusia dalam berbagai aspek, termasuk pekerjaan dan akses informasi. Namun, mereka mengingatkan agar manusia tidak melupakan pentingnya hubungan sosial dan pengalaman nyata di dunia analog.

Véliz menyatakan bahwa kemajuan AI seharusnya menjadi pengingat akan nilai dari hal-hal sederhana yang tidak dapat digantikan oleh teknologi, seperti berbicara langsung dengan orang lain, membaca buku fisik, menikmati suasana kafe, atau belajar di kampus. "Tidak peduli seberapa canggih AI nantinya, AI tidak akan pernah menjadi dunia analog," ujarnya.

Oleh karena itu, para ahli menekankan pentingnya menjaga keseimbangan. AI bisa membantu kehidupan manusia, tetapi hubungan nyata, perbedaan pendapat, dan interaksi sosial tetap merupakan bagian penting yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh AI.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait