Jakarta - Transformasi yang dibawa oleh Artificial Intelligence (AI) telah mengubah cara kerja di berbagai sektor industri. Banyak pekerjaan yang bersifat rutin dan teknis mulai dialihkan ke sistem otomatisasi. Di sisi lain, kebutuhan akan keterampilan yang berfokus pada manusia, atau Human-Centric Skills, semakin meningkat. Hal ini menimbulkan pertanyaan di benak banyak orang tua mengenai keterampilan apa yang harus dimiliki anak-anak mereka agar tetap relevan dan mampu mengembangkan karier di masa depan.
Saat ini, perusahaan tidak hanya mencari individu yang memiliki pengetahuan teknologi, tetapi juga yang memiliki kemampuan berpikir kritis, komunikasi yang efektif, kerja sama, dan kemampuan beradaptasi, yang kini menjadi faktor kunci dalam kesuksesan di dunia kerja. Berbagai laporan internasional, termasuk dari World Economic Forum dan Deloitte, menunjukkan bahwa Human-Centric Skills diperkirakan akan menjadi salah satu pembeda utama bagi talenta di masa depan.
Pentingnya Keterampilan Manusia di Era AI
Dr. Elisa Carolina Marion, S.S., M.Si., Dekan Fakultas Humaniora BINUS University, menyatakan bahwa perkembangan AI tidak seharusnya dianggap sebagai ancaman bagi disiplin ilmu humaniora. Sebaliknya, teknologi ini justru semakin menegaskan pentingnya keterampilan yang dimiliki manusia. "Di tengah perkembangan AI, kemampuan manusia seperti komunikasi, empati, berpikir kritis, dan pemahaman lintas budaya menjadi semakin relevan karena tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi. Salah satu contohnya, AI tidak hanya membutuhkan orang yang paham teknologi, tetapi juga orang yang mampu berkomunikasi dengan jelas," jelas Dr. Elisa dalam siaran pers yang dirilis pada Selasa (21/7/2026).
Menurutnya, untuk memanfaatkan AI secara optimal, seseorang tidak hanya perlu menguasai teknologi, tetapi juga harus memahami konteks dan mampu merumuskan pertanyaan dengan tepat. Selain itu, penting bagi pengguna untuk menjelaskan tujuan dan mengarahkan AI agar dapat memberikan informasi yang relevan. "Kita perlu tahu bagaimana menyusun pertanyaan, memberi konteks, menjelaskan tujuan, dan mengarahkan AI agar hasilnya sesuai dengan kebutuhan. Di sinilah ilmu bahasa dan humaniora menjadi sangat relevan," tambahnya.
Transformasi Pendidikan untuk Memenuhi Kebutuhan Industri
Karena itu, kemampuan untuk memahami manusia, budaya, bahasa, dan perspektif global menjadi nilai tambah yang signifikan di berbagai sektor industri. Perubahan dalam dunia kerja juga mempengaruhi cara perusahaan mencari talenta. Selain kompetensi teknis, kemampuan komunikasi dan kolaborasi lintas budaya kini semakin diperhitungkan.
Tren ini terlihat dalam laporan LinkedIn Global Talent Trends yang menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi dan interpersonal merupakan kompetensi yang paling dicari oleh perusahaan-perusahaan di seluruh dunia. Hal ini sejalan dengan berbagai penelitian yang dilakukan oleh Fakultas Humaniora BINUS University, yang menunjukkan bahwa kemampuan untuk bekerja dalam lingkungan multikultural sangat penting. Pemahaman terhadap perspektif lintas budaya juga menjadi faktor yang mendukung kesuksesan organisasi atau perusahaan multinasional.
Fakultas Humaniora BINUS University berkomitmen untuk memberikan pendidikan yang komprehensif, mengintegrasikan penguasaan bahasa, budaya, hukum, komunikasi, dan pemahaman perilaku manusia. "Perguruan tinggi perlu mempersiapkan mahasiswa tidak hanya dengan pemahaman teknologi, tetapi juga kemampuan memahami manusia, berinteraksi, dan bernegosiasi dalam komunitas global lintas budaya yang terus berkembang," ungkap Dr. Elisa.
Melalui kurikulum yang kuat secara akademik, mahasiswa juga diberikan pengalaman nyata melalui Program Enrichment. Program ini menawarkan berbagai aktivitas unggulan, termasuk magang, penelitian, pertukaran pelajar, kewirausahaan, hingga pengembangan komunitas yang terhubung langsung dengan industri. Kombinasi antara pembelajaran akademik dan pengalaman praktis ini diharapkan dapat menjadi bekal penting bagi lulusan untuk beradaptasi dengan dinamika dunia kerja yang terus berubah.
Dr. Elisa menambahkan, "Di masa depan, kemampuan beradaptasi, berkolaborasi lintas budaya, dan memiliki perspektif global akan menjadi fondasi penting dalam dunia profesional." Fakultas Humaniora BINUS University juga menjalin kerja sama internasional dengan berbagai universitas dan industri di negara-negara seperti Jepang, China, Taiwan, Korea Selatan, Amerika Serikat, Belanda, dan Australia. Melalui jaringan ini, mahasiswa memiliki kesempatan untuk mendapatkan pengalaman internasional sebelum lulus.
Dr. Elisa mengungkapkan hasil survei alumni pada Februari 2026, yang menunjukkan bahwa satu dari tiga lulusan Program Japanese Popular Culture berhasil membangun karier di 14 prefektur di Jepang. "Capaian ini menunjukkan bahwa kompetensi lintas budaya, kemampuan beradaptasi, serta perspektif global benar-benar menjadi modal penting untuk membangun karier di tingkat internasional," jelasnya.
Komitmen Fakultas Humaniora BINUS University juga terlihat dari pencapaian dalam QS World University Rankings by Subject. Bidang Hukum yang menaungi Program Business Law berada pada peringkat 251-300 dunia dan lima besar di Indonesia. Bidang Ilmu Sosial & Manajemen menempati peringkat 341 dunia dan empat besar di Indonesia, mencakup hubungan internasional, pendidikan guru, dan hukum bisnis. Sementara itu, bidang Seni & Humaniora berada pada peringkat 451-500 dunia dan lima besar nasional, mencakup Global Business Chinese, Creative Digital English, dan Japanese Popular Culture.
Saat ini, Fakultas Humaniora BINUS University menawarkan program-program seperti Creative Digital English, Japanese Popular Culture, Global Business Chinese, Business Law, International Relations, Psychology, PGSD, dan Digital Psychology. Dengan pendekatan pembelajaran yang berfokus pada Human-Centric Skills yang didukung oleh teknologi, institusi ini terus mempersiapkan lulusan terbaik yang diharapkan siap menghadapi era AI dan mampu berkontribusi di tingkat internasional.