Pada 20 Oktober 2026, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka merayakan dua tahun masa jabatannya, di mana sektor pendidikan menjadi salah satu bidang yang mendapatkan perhatian khusus. Berbagai kebijakan yang diterapkan menunjukkan komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui perbaikan infrastruktur, digitalisasi pembelajaran, peningkatan kompetensi guru, dan pemerataan akses pendidikan.
Investasi Strategis untuk Masa Depan
Langkah-langkah ini dianggap sebagai investasi strategis untuk memperkuat daya saing bangsa dan mempersiapkan generasi Indonesia Emas 2045. Dalam konteks pembangunan nasional, pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Gary Becker dalam karyanya menjelaskan bahwa investasi dalam pendidikan sangat krusial untuk meningkatkan produktivitas manusia. Sementara itu, Amartya Sen menekankan bahwa perluasan kemampuan dan kesempatan manusia merupakan aspek penting dalam pembangunan. Kedua pandangan ini menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari jumlah sekolah atau siswa, tetapi juga dari kualitas pembelajaran dan kesempatan bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi mereka.
Salah satu pencapaian signifikan dari pemerintahan Prabowo-Gibran adalah revitalisasi satuan pendidikan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melaporkan pada Februari 2026 bahwa program revitalisasi yang dilaksanakan pada tahun 2025 dengan anggaran sebesar Rp16,9 triliun telah berhasil menjangkau 16.167 satuan pendidikan, melebihi target awal yang ditetapkan sebanyak 10.440 satuan pendidikan. Kemendikdasmen juga mengonfirmasi bahwa pelaksanaan revitalisasi tersebut telah mencapai 100 persen, menunjukkan adanya kemajuan nyata dalam perbaikan infrastruktur pendidikan di seluruh negeri.
Pentingnya Lingkungan Pembelajaran yang Baik
Revitalisasi sekolah sangat penting karena kualitas pendidikan tidak bisa dipisahkan dari kondisi lingkungan pembelajaran. Ruang kelas yang aman, fasilitas sanitasi yang memadai, serta sarana pembelajaran yang layak merupakan syarat mutlak untuk proses pendidikan yang efektif. Namun, pembangunan fisik harus diimbangi dengan pemeliharaan fasilitas dan peningkatan kualitas pembelajaran. Pemerintah juga harus memastikan bahwa sekolah-sekolah di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar mendapatkan prioritas sesuai dengan kebutuhan mereka.
Digitalisasi pembelajaran juga menjadi terobosan penting. Pada 17 November 2025, Presiden Prabowo meluncurkan Program Digitalisasi Pembelajaran untuk Indonesia Cerdas yang menyasar 288.865 sekolah di seluruh Indonesia. Hingga 16 November 2025, Kemendikdasmen melaporkan bahwa sekitar 173 ribu panel interaktif digital telah didistribusikan ke sekolah-sekolah. Pada Februari 2026, kementerian tersebut juga mengonfirmasi bahwa distribusi perangkat telah mencapai 100 persen. Kebijakan ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam memperluas akses terhadap teknologi pembelajaran, yang sangat relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini.
Namun, keberhasilan digitalisasi tidak hanya diukur dari jumlah perangkat yang didistribusikan. Kemampuan guru dalam menggunakan teknologi, ketersediaan jaringan internet, pemeliharaan perangkat, dan kesesuaian materi pembelajaran juga harus menjadi perhatian utama. Teknologi harus berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pendidikan, bukan sekadar simbol modernisasi.
Di bidang pengembangan talenta unggul, pemerintah juga meluncurkan Sekolah Garuda. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mengumumkan pada Februari 2026 penerimaan peserta didik angkatan pertama untuk empat SMA Unggul Garuda Baru pada tahun ajaran 2026/2027 dengan kapasitas 640 siswa yang mendapatkan beasiswa penuh. Sekolah-sekolah ini terletak di Belitung Timur, Timor Tengah Selatan, Konawe Selatan, dan Bulungan. Program ini bertujuan untuk mengembangkan talenta unggul dalam bidang sains, teknologi, rekayasa, dan matematika.
Pengembangan Sekolah Garuda sangat patut diapresiasi karena memberikan kesempatan bagi siswa-siswa berpotensi tinggi dari berbagai daerah untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Indonesia memerlukan generasi yang memiliki penguasaan ilmu pengetahuan, kemampuan berpikir kritis, dan daya saing global.
Selain itu, transparansi anggaran dan evaluasi independen harus menjadi bagian dari pengelolaan pendidikan. Keberhasilan program harus dinilai tidak hanya berdasarkan besarnya anggaran, jumlah penerima manfaat, atau fasilitas yang dibangun, tetapi juga dari perubahan nyata dalam kualitas pembelajaran. Dengan demikian, apresiasi terhadap capaian pemerintah harus berjalan seiring dengan pengawasan dan perbaikan kebijakan.
Dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran menunjukkan fondasi yang semakin kuat dalam pembangunan pendidikan. Revitalisasi sekolah, digitalisasi pembelajaran, Sekolah Garuda, dan peningkatan kompetensi guru mencerminkan perhatian terhadap berbagai aspek pembangunan manusia. Tantangan selanjutnya adalah memastikan bahwa seluruh kebijakan tersebut dapat menghasilkan peningkatan mutu pendidikan yang terukur, merata, dan berkelanjutan. Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan bukan hanya tentang program yang diluncurkan, tetapi juga tentang masa depan anak-anak Indonesia.
Dengan konsistensi kebijakan, tata kelola yang akuntabel, serta keberpihakan pada pemerataan kualitas, capaian dua tahun pertama pemerintahan Prabowo-Gibran dapat menjadi pijakan penting bagi transformasi pendidikan nasional menuju Indonesia Emas 2045.