Wednesday, 06 May 2026
Fakta Ekonomi

Ekonomi Indonesia Tumbuh, Namun Rupiah Melemah: INDEF Soroti Kualitas Pertumbuhan

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen, namun pelemahan rupiah hingga mendekati Rp 17.400 per dolar AS menunjukkan adanya kekhawatiran di pasar keuangan.

S
Stevani Nila Wardana
06 May 2026 4 pembaca
Ekonomi Indonesia Tumbuh, Namun Rupiah Melemah: INDEF Soroti Kualitas Pertumbuhan

Kepala Center of Macroeconomics and Finance INDEF, Rizal Taufikurrahman, mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen pada kuartal I 2026 terlihat kuat secara makro. Namun, ia mencatat bahwa pasar keuangan menunjukkan sinyal berbeda dengan melemahnya rupiah yang mendekati Rp 17.400 per dolar AS.

Rizal menjelaskan, "Ini menunjukkan pasar tidak hanya melihat angka pertumbuhan headline, tetapi juga memperhatikan kualitas dan keberlanjutan pertumbuhan tersebut," saat dihubungi oleh Republika di Jakarta.

Ia menambahkan bahwa pertumbuhan yang terlalu bergantung pada stimulus fiskal atau belanja pemerintah yang tinggi serta konsumsi jangka pendek belum tentu diikuti oleh penguatan fundamental eksternal dan kepercayaan investor. Jika ditelaah lebih dalam, struktur pertumbuhan kuartal I 2026 masih didominasi oleh konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah, terutama yang dipengaruhi oleh efek musiman Ramadhan-Idul Fitri dan percepatan belanja negara.

Rizal juga mengungkapkan bahwa tekanan eksternal semakin meningkat, dengan harga minyak dunia yang masih di atas 100 dolar AS per barel, sehingga memperbesar beban impor energi dan risiko subsidi. Di sisi lain, kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) terus menurun dalam setahun terakhir, yield SBN cenderung meningkat, dan tekanan terhadap APBN mulai terlihat dengan defisit mencapai sekitar 0,93 persen dari PDB per Maret 2026.

“Artinya, pasar membaca adanya risiko fiskal dan eksternal yang lebih besar dibanding optimisme pertumbuhan domestik,” tambahnya.

Lebih lanjut, Rizal mengindikasikan bahwa pertumbuhan saat ini belum sepenuhnya mencerminkan penguatan sektor produktif. Ia mencatat bahwa Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur Indonesia pada April 2026 telah kembali masuk zona kontraksi, investasi belum meningkat secara agresif, dan daya beli kelas menengah masih tertekan akibat biaya hidup yang tinggi serta suku bunga yang tinggi.

“Jadi secara ekonomi, kondisi ini bukan sepenuhnya janggal, tetapi menunjukkan adanya disconnect antara pertumbuhan statistik dengan persepsi pasar dan kondisi riil di lapangan,” kata Rizal.

Rizal menekankan pentingnya perhatian pemerintah terhadap isu ini, dengan menyatakan bahwa stabilitas nilai tukar sangat dipengaruhi oleh kredibilitas fiskal, ketahanan eksternal, dan keyakinan investor terhadap arah ekonomi ke depan.

// Artikel Terkait