Bank Indonesia (BI) telah meluncurkan program transformasi kewirausahaan yang ditujukan untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta pondok pesantren (ponpes). Langkah ini diambil sebagai upaya untuk memperkuat ekonomi kerakyatan dan mendukung penciptaan lapangan kerja di Indonesia. Melalui program ini, ribuan UMKM dan pesantren akan mendapatkan pembinaan dari BI untuk meningkatkan kapasitas mereka.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa program ini merupakan komitmen dari BI, pemerintah, dan mitra strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. "Program ini merupakan komitmen dari BI, pemerintah, dan mitra strategis BI untuk UMKM guna mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pelatihan kewirausahaan terpadu, kemandirian UMKM, sekaligus untuk penciptaan lapangan kerja dan ekonomi kerakyatan," ujarnya dalam acara peluncuran program di Jakarta.
Pentingnya Program di Tengah Ketidakpastian Global
Perry menjelaskan bahwa peluncuran program ini sangat penting mengingat kondisi global yang tidak menentu, seperti gejolak akibat perang di Timur Tengah dan perang dagang antara AS dan negara lainnya. "Dalam situasi ketidakpastian yang tinggi, kita harus semakin mandiri. Apa yang terjadi di global, we have to move on," tambahnya.
Selain itu, ia menekankan potensi besar yang dimiliki oleh UMKM, yang merupakan pilar penting dalam pembangunan ekonomi dengan jumlah lebih dari 65 juta di Indonesia. Meskipun banyak di antaranya berukuran kecil, sektor ini berkontribusi signifikan dalam penciptaan lapangan kerja. "Memajukan UMKM berarti mendorong pertumbuhan dan menciptakan lapangan kerja, menyejahterakan keluarga, dan juga bisa meneruskan generasi kita," ungkapnya.
Program Transformasi yang Berbeda
Perry juga menyebutkan bahwa pengembangan UMKM merupakan bagian dari program nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dan sejalan dengan pilar penting program Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto, yaitu ekonomi kerakyatan. "Jadi, kenapa program ini penting, satu, karena globalnya bergejolak, kita enggak bisa mengandalkan global, mari kita perkuat kekuatan kita," jelasnya.
BI memiliki 46 kantor perwakilan yang membina lebih dari 3.000 UMKM, serta lebih dari 1.500 pesantren di seluruh Indonesia. Perry menambahkan bahwa program transformasi ini berbeda dari program-program sebelumnya, mencakup tiga proses utama: pendidikan kewirausahaan, sertifikasi, dan uji coba magang. Dalam waktu 2 hingga 2,5 bulan, pelaku UMKM akan mendapatkan pendidikan yang tidak hanya mencakup pengetahuan teknis, tetapi juga kemampuan bisnis.
Setelah menyelesaikan pendidikan, peserta akan mengikuti sertifikasi sebagai bukti kompetensi. "Setelah sertifikasi, baru diceburkan (tahap selanjutnya) uji coba magang. Ini betul-betul praktik, istilah kerennya sandboxing," jelasnya. Di akhir program, para UMKM akan mendapatkan insentif berupa modal usaha untuk mendirikan dan mengembangkan bisnis mereka.