Fakta Pendidikan

Fenomena Cuaca yang Menyebabkan Hujan Berkelanjutan di Indonesia

Musim hujan di Indonesia yang berlangsung dari Oktober hingga April sering kali ditandai dengan hujan yang terus-menerus. Penjelasan mengenai fenomena ini disampaikan oleh peneliti dari Badan Riset da...

D
Dila Rakasiwi
05 October 2026
35 pembaca
Banjir di Kota Padang, Sumatera Barat, Jumat (8/3/2024) lalu akibat intensitas hujan tinggi sejak Kamis (7/3/2024).Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra
Banjir di Kota Padang, Sumatera Barat, Jumat (8/3/2024) lalu akibat intensitas hujan tinggi sejak Kamis (7/3/2024).Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

Jakarta - Musim hujan di Indonesia biasanya berlangsung antara bulan Oktober hingga April, dan sering kali hujan yang turun berlangsung tanpa henti. Bahkan, hujan tersebut dapat meningkat menjadi hujan ekstrem. Apa yang menyebabkan fenomena ini terjadi?

Erma Yulihastin, peneliti dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan bahwa hujan yang terus menerus ini berkaitan dengan fenomena cold pool. Cold pool adalah kumpulan udara yang relatif lebih dingin di dekat permukaan, dikelilingi oleh udara yang lebih hangat. Fenomena ini dapat memicu terbentuknya sel hujan baru dan memperpanjang sistem hujan hingga lebih dari dua jam.

“Ketika hujan turun, sebagian air mengalami penguapan. Proses tersebut menyebabkan udara di sekitarnya menjadi lebih dingin. Udara dingin kemudian bergerak menyebar di dekat permukaan,” jelas Erma pada EARTH School 2026, Bandung, Selasa (22/9), dikutip dari BRIN, Senin (5/10).

Pergerakan Udara dan Pembentukan Awan

Lebih lanjut, Erma menjelaskan bahwa pergerakan udara dingin dari cold pool akan mendorong udara di sekitarnya untuk naik. Proses pengangkatan ini dapat memicu terbentuknya awan dan sel hujan baru. Mekanisme ini adalah alasan mengapa hujan tidak kunjung reda, karena proses pembentukan hujan baru terus berlanjut dari hujan yang sedang terjadi.

Selain cold pool, ada faktor lain yang turut berkontribusi terhadap hujan yang terus menerus. Salah satunya adalah sistem konvektif yang dapat berkembang di laut dan bergerak menuju daratan. Hal ini menyebabkan hujan di pagi hari di wilayah Jawa Barat dan Jakarta. Kekuatan angin dari arah utara juga berperan dalam proses ini.

“Ketika angin utara cukup kuat, cold pool yang terbentuk saat sistem konveksi mulai melemah dapat bergerak menuju pesisir dan memicu pembentukan konveksi baru,” ungkap Erma. Jika angin dari utara lemah, maka kemampuan cold pool untuk memicu konveksi juga akan berkurang. Interaksi antara udara dingin dekat permukaan dan pola angin menjadi faktor penting dalam perkembangan sistem hujan di wilayah pesisir dan Jawa Barat.

Pengaruh Topografi Pegunungan

Selain di pesisir, pola pengaruh cold pool juga terlihat di daerah pegunungan Sumatera Barat. Interaksi antara cold pool dan topografi pegunungan dapat memperkuat pengangkatan udara, sehingga sel konvektif dapat terbentuk kembali dan hujan tidak berhenti. Dalam beberapa kondisi, interaksi ini bahkan dapat menyebabkan hujan ekstrem.

Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa karakteristik wilayah sangat memengaruhi proses terbentuknya hujan. Mekanisme atmosfer yang sama dapat berinteraksi dengan kondisi angin dan bentang alam yang berbeda. “Pemahaman terhadap interaksi berbagai faktor tersebut penting dalam mengkaji dinamika sistem hujan dan kejadian cuaca ekstrem di Indonesia,” tutup Erma.

Sistem hujan merupakan proses yang dinamis, bukan sekadar hasil akhir dari pembentukan awan, melainkan juga bagian dari proses atmosfer yang memengaruhi perkembangan konveksi berikutnya.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait