Fakta Hukum

Gugatan Terhadap James Cameron dan Disney Terkait Penggunaan Wajah Aktris Pribumi

Sutradara James Cameron dan The Walt Disney Company menghadapi gugatan dari aktris Q’orianka Kilcher yang menuduh penggunaan wajahnya tanpa izin dalam film “Avatar”. Kasus ini mengungkap dugaan pelang...

W
Wira Yudha
07 May 2026
21 pembaca
Aktris Q'orianka Kilcher. (ANTARA/instagram/qorianka)
Aktris Q'orianka Kilcher. (ANTARA/instagram/qorianka)

Sutradara James Cameron bersama The Walt Disney Company dilaporkan sedang menghadapi gugatan terkait tuduhan penggunaan wajah seorang aktris pribumi tanpa izin untuk karakter di film “Avatar”. Menurut informasi yang disampaikan oleh Variety pada Rabu (6/5), aktris Q’orianka Kilcher yang mengajukan gugatan tersebut menyatakan bahwa saat berusia 14 tahun, setelah tampil sebagai Pocahontas dalam film “The New World” karya Terrence Malick, Cameron mengambil fitur wajahnya dari sebuah foto yang telah dipublikasikan dan meminta tim desain untuk menjadikannya sebagai dasar karakter Neytiri di “Avatar”.

Dalam dokumen gugatan yang diajukan ke Pengadilan Distrik Amerika Serikat untuk Central District of California, Kilcher menyatakan bahwa ia tidak pernah memberikan persetujuan untuk penggunaan wajahnya, baik dalam film “Avatar” maupun dalam produk dan promosi terkait. Rupa Kilcher diduga direplikasi dalam sketsa produksi, kemudian dibentuk menjadi model tiga dimensi, dipindai laser menjadi model digital resolusi tinggi, dan didistribusikan ke berbagai vendor efek visual untuk menciptakan citra karakter tersebut.

Proses dan Implikasi Hukum

Wajah Kilcher kemudian ditampilkan di bioskop, poster, merchandise, sekuel, hingga penayangan ulang tanpa sepengetahuan dan persetujuannya. Arnold P. Peter, kuasa hukum utama Kilcher dari Peter Law Group, mengungkapkan, “Apa yang dilakukan Cameron bukanlah inspirasi, melainkan ekstraksi. Ia mengambil fitur biometrik unik wajah seorang gadis pribumi berusia 14 tahun, memprosesnya melalui sistem produksi industri, dan menghasilkan keuntungan miliaran dolar tanpa pernah meminta izin. Itu bukan pembuatan film. Itu pencurian.”

Gugatan ini juga mencatat bahwa Kilcher dan Cameron pertama kali bertemu secara singkat di sebuah acara amal beberapa bulan setelah perilisan “Avatar” pada tahun 2009. Dalam pertemuan tersebut, Cameron mengundang Kilcher untuk berkunjung ke kantornya. Namun, ketika Kilcher datang, Cameron tidak ada di tempat dan salah satu stafnya memberikan cetakan sketsa berbingkai yang dibuat oleh Cameron, disertai catatan tangan yang menyatakan, “Kecantikanmu menjadi inspirasi awal saya untuk Neytiri. Sayang sekali kamu sedang syuting film lain. Lain kali.”

Pemahaman dan Penemuan Terbaru

Kemudian, Kilcher mengungkapkan, “Saya tidak pernah membayangkan seseorang yang saya percaya akan secara sistematis menggunakan wajah saya sebagai bagian dari proses desain rumit dan memasukkannya ke jalur produksi tanpa pengetahuan maupun persetujuan saya. Itu sudah melewati batas besar. Tindakan ini sangat salah.” Menurut dokumen gugatan, Kilcher baru menyadari fakta tersebut pada akhir tahun lalu setelah wawancara video Cameron muncul di media sosial, di mana Cameron menyebutkan Kilcher saat berdiri di depan sketsa Neytiri.

Dalam wawancara tersebut, Cameron menyatakan, “Sumber asli untuk ini adalah sebuah foto di L.A. Times, seorang aktris muda bernama Q’orianka Kilcher. Ini sebenarnya dirinya… bagian bawah wajahnya. Dia punya wajah yang sangat menarik.”

Gugatan ini juga menuduh para tergugat melanggar undang-undang pornografi deepfake yang baru diberlakukan di California. Kilcher menambahkan, “Sangat mengganggu mengetahui bahwa wajah saya saat berusia 14 tahun diambil dan digunakan tanpa pengetahuan maupun persetujuan saya untuk membantu menciptakan aset komersial yang menghasilkan nilai sangat besar bagi Disney dan Cameron.” Film pertama “Avatar” telah meraup lebih dari 2,92 miliar dolar AS di seluruh dunia, menjadikannya salah satu waralaba film dengan pendapatan tertinggi sepanjang masa.

Tags: Belum ada tag pada artikel ini

Artikel Terkait