Jakarta - Hujan meteor Draconid mencapai puncaknya sejak malam kemarin, Kamis (8/10/2026). Meskipun fenomena ini lebih mudah diamati di belahan bumi utara, Indonesia masih memiliki kesempatan untuk melihatnya pada hari Jumat, 9 Oktober 2026, dengan perkiraan munculnya hingga 5 meteor per jam. Dari tanggal 2 Oktober hingga 7 November, hujan meteor Orionid juga sedang aktif dan dapat terlihat di kedua belahan bumi, dengan puncaknya diperkirakan terjadi pada Rabu-Kamis, 21-22 Oktober, dengan intensitas mencapai 20 meteor per jam.
Cara Menyaksikan Hujan Meteor Malam Ini
Untuk menikmati hujan meteor Draconid malam ini, Royal Museum Greenwich memberikan beberapa saran. Pertama, waktu terbaik untuk mengamati adalah setelah matahari terbenam, meskipun biasanya meteor paling jelas terlihat pada dini hari. Pilihlah lokasi dengan langit gelap dan bebas dari awan, serta pastikan cakrawala tidak terhalang dan polusi cahaya minimal. Hindari sumber cahaya langsung yang dapat mengganggu penglihatan, agar mata dapat beradaptasi dengan kondisi gelap dan meteor yang lebih redup dapat terlihat. Amati dengan mata telanjang tanpa menggunakan teropong atau teleskop, dan arahkan pandangan ke atas untuk mendapatkan pemandangan langit yang lebih luas.
Fakta Menarik tentang Hujan Meteor Draconid dan Orionid
Hujan meteor Draconid, yang kadang disebut Giacobinid, diambil dari nama penemu komet 21 P/Giacobini-Zinner, yang merupakan sumber meteor ini. Nama Draconid berasal dari konstelasi Draco (naga), di mana meteor-meteor ini tampaknya berasal. Hujan meteor ini paling baik terlihat di malam hari karena titik pancarannya berada di titik tertinggi langit saat senja.
Sementara itu, hujan meteor Orionid merupakan pecahan dari Komet 1P/Halley atau Komet Halley yang terkenal, yang melintas dekat Bumi setiap 75-76 tahun. Orionid adalah salah satu hujan meteor paling terkenal yang dapat diamati dari seluruh dunia. Fenomena ini dapat dilihat beberapa hari sebelum dan setelah puncaknya, tetapi intensitasnya paling tinggi antara tengah malam hingga menjelang terbitnya matahari, dengan jumlah meteor mencapai 20 per jam.